Lihat ke Halaman Asli

Fergusoo

Wiraswasta

Skenario Tenaga Kesehatan Menghadapi ODP dan PDP Tanpa APD

Diperbarui: 3 April 2020   21:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi foto (kompas.id)

Bergulirnya kasus virus corona di Indonesia semakin hari, semakin menunjukan perkembangan yang terus meningkat. Tentu hal ini sangat memprihatinkan, mengingat sudah hampir sebulan kita berperang melawan corona.

Penanganan pasien positif terkena corona dirumah sakit juga sangat miris. Bukan karena tenaga medisnya tidak mampu dan cakap dalam menangani penyakit yang terbilang baru ini. Namun yang saat ini menjadi ancaman adalah tenaga medis rawan tertular virus covid-19.

Seperti yang kita ketahui, virus covid-19 adalah penyakit menular yang bisa menyebabkan kematian. Penularan ini sesungguhnya bisa dicegah dengan mengenakan seragam medis yang sesuai dan cocok untuk protokol penangan penyakit menular nan ganas seperti virus corona.

Permasalahan kurangnya Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis yang menangani pasien positif corona dirumah sakit juga telah menjadi polemik yang memilukan. Alhasil kekurangan APD tersebut dijawab dengan berita duka bahwa beberapa tenaga medis yang menangani pasien terinfeksi corona,  positif dan tertular. Lalu akhirnya harus berkalang tanah.

Ironi perjuangan mereka dalam menangani pasien corona semata-mata sebagai bentuk tanggung jawab profesi dan bakti untuk kemanusiaan. Sampai saat  artikel ini saya buat, beberapa rumah sakit khususnya yang berada didaerah masih was-was dengan stock pasokan APD yang terbilang masih kurang.

Pergeseran kekurangan APD dikota-kota besar seperti di Jakarta dan sekitarnya kini sedang menyasar daerah-daerah yang ada di kabupaten khususnya puskesmas sebagai benteng pertahanan kesehatan dasar didesa.

Mengingat kasus ini juga sedang menjadi ancaman bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berjibaku diakar rumput. Proses transmisi penyakit corona dari manusia ke manusia memang sangat cepat.

Wajar bila Haris Ashar, Aktivis HAM meminta agar pemerintah bekerja lebih cepat seperti virus corona. Ditambah lagi sejak saat pemberlakuan libur sekolah dan bekerja dari rumah masing-masing, orang-orang dari kota banyak yang mudik kekampung halaman karena pembatasan sosial ini.

Tantangan pencegahan dan pengendalian virus corona pun akhirnya turun hingga kelevel bawa. Berdasarkan aturan dari pemerintah, orang-orang dari luar daerah maupun dari luar negeri, jika kembali ke desa maka ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Kemudian  ada lagi dengan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Orang yang masuk kategori ini adalah sudah dirawat oleh tenaga kesehatan (menjadi pasien) dan menunjukkan gejala sakit seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas.

Lain lagi dengan suspect corona. Pada level ini orang orang yang diduga kuat telah terjangkit virus corona dan sempat kontak langsung dengan pasien yang positif corona. Pasien yang masuk kategori ini akan dirawat difasilitas tingkat lanjutan yakni rumah sakit dan akan menjalani serangkai pemeriksaan laboratorium yang ketat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline