Lihat ke Halaman Asli

SISKA ARTATI

TERVERIFIKASI

Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Meneladani Sifat Rasulullaah SAW dengan Menjadi Pribadi yang Pemaaf

Diperbarui: 20 Oktober 2021   13:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Maulid Nabi Muhammad. (sumber: pixabay.com/Abdullah_Shakoor)

Semua ummat Islam di dunia memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad Shallallaahu 'Alayhi Wassalaam, 12 Rabi'ul Awwal (kalender Hijriah), yang jatuh pada hari ini, 19 Oktober 2021 pada kalender Masehi.

Sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta'alaa sampaikan melalui firman-Nya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab ayat 21).

Melalui sejarah nabi yang saya baca dari Buku Sirah Nabawiyah yang disusun oleh Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri, sungguh saya sangat terkesan sebagai ummat Rasul.

Kepribadian yang agung, menjadikan beliau teladan terbaik bagi seluruh ummat. Salah satu dari sekian banyak pribadi baik beliau adalah pemaaf. 

***

Dalam kehidupan keseharian, kita tak luput dari kesalahan. Manusia adalah makhluk yang lalai, tempatnya lupa dan khilaf. Tak jarang kita mendapat perlakukan kurang baik dari sesama atau bahkan justru kita yang melakukannya kepada orang lain, baik sengaja ataupun tidak.

Rasulullaah sangat terjaga adab dan akhlaknya. Sikap baik beliau belum tentu diterima baik oleh orang lain. Saat menjalankan dakwah dan risalah-Nya, beliau mengalami perundungan dari kaumnya.

Kisah yang sangat miris, membuat saya ngilu membacanya, dan berlinang air mata, merasakan kepedihan yang beliau alami, saat berdakwah di luar Makkah. Beliau melakukan ajakan kepada Islam pada penduduk Tha'if, yang berjarak kurang lebih 60 mil dari Makkah.

Beliau berdakwah ke sana dengan berjalan kaki, demikian pula dengan kepulangannya. Selama menjalankan dakwah di wilayah tersebut, beliau disertai oleh sahabat bernama Zaid bin Haritsah.

Rasulullaah SAW berada di tengah penduduk Tha'if selama sepuluh hari. Setiap pemuka masyarakat yang datang menemui beliau, pasti diajaknya berbicara dan diseru untuk menuju iman Islam. Namun, tak satupun yang memenuhi ajakannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline