Lihat ke Halaman Asli

SISKA ARTATI

TERVERIFIKASI

Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Kemarau dan Hujan, Hadirmu Tetap Kurindukan

Diperbarui: 2 September 2021   11:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilusteasi hambar https://nusacaraka.com

Diujung kemarau panjang
Yang gersang dan menyakitkan
Kau datang menghantar berjuta kesejukan
Kasih, Kau beri udara untuk nafasku
Kau beri warna bagi kelabu jiwaku

Suara manja Sang Burung Camar di tembang September Ceria senantiasa mengingatkan saya hadirnya bulan ini. Bulan yang mengingatkan bahwa beberapa waktu ke depan akan segera berganti tahun. Bulan pancaroba yang menjadi penjembatan pergantian musim dari Kemarau ke Penghujan.

Menjadi teringat tembang tersebut, karena liriknya menyematkan kerinduan akan hadirnya hujan yang menyegarkan dan menyemarakkan suasana gersang menjadi subur penuh cinta, ahay! Indahnya masa remaja.

***

Musim hujan yang sangat deras di Bulan Desember, tepatnya saya kurang ingat tahun berapa. Yang terkenang adalah saya masih duduk di bangku sekolah dasar sekitar kelas Empat atau Lima.

Cuaca jelang sore cukup bersahabat, tidak terlalu panas, mendung bergelayut, suasananya tenang, tak berteman gemuruh. Ibu meminta saya menjemput kakak perempuan yang sedang kursus menjahit di desa sebelah.

Tempatnya yang tak terlalu jauh, cukup ditempuh berjalan kaki limabelas menit. Menunggu sekitar setengah jam untuk kakak selesai membereskan pernak-pernik jahit di mejanya. Kami bergegas pulang ke rumah.

Ibu membekali payung untuk saya, berjaga jika tetiba hujan  turun. Langit mulai gerimis. Namun, yang terjadi justru angin kencang yang menahan kaki kami, berat melangkah melawan arusnya. Bahkan payung mengembang terbalik, kakak berusaha memperbaikinya. 

Sayang, kain tipis payung malah robek di beberapa sisi. Terpaksa payung dikerutkan. Kami setengah berlari melawan gerimis yang mulai menghujani dengan lebat.

Sungguh takdinyana, separuh perjalanan menuju rumah, kami disambut angin bergemuruh menyerbu desa. Hujan benar-benar tak mengenal ampun mendera. Kami sempoyongan hampir terbang ke bawa angin, berpegangan pada pohon di tepi jalan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline