Lihat ke Halaman Asli

Ahokologi

Diperbarui: 24 Juni 2016   22:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ilmu itu berkembang. Dulu, ketika anda semua belu lahir, hanya ada filsafat. Dari filsafatlah lahir ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan lahir karena filsafat tidak cukup menjawab banyak masalah teknis dalam kehidupan. Kehidupan ini sangat kompleks, ada banyak hal yang tidak dapat diselesaikan dengan prinsip-prinsip general yang ditawarkan filsafat. Namun filsafat tidak hilang meskipun ilmu pengetahuan telah jauh berkembang. Sampai saat ini.

Pada awalnya ilmu pengetahuan juga sangat sederhana, menyangkut hal-hal yang pasti dan terukur saja, ilmu pasti. Sebab ilmu adalah sesuatu yang dapat diukur dan diindera, bisa diulang di tempat lain dan waktu lain. Selain itu mungkin saja hanya sebuah mitos.

Ilmu pasti tidak cukup, ia terus berkembang. Kehidupan manusia perlu jawaban atas banyak masalah kehidupan sehari-harinya. Sebagai makhluk sosial ia melewati banyak waktu dengan orang lain dan dengan lingkungan. Di sana kemudian lahir ilmu sosial.

Syahdan..... ilmu sosial berkembang dari waktu ke waktu hingga melahirkan sangat banyak bidang ilmu, salah satunya: Politik.

Ilmu politik akarnya berasal dari kata poly (banyak) dan tik (cara). Sederhananya adalah ilmu tentang "banyak cara" mencapai tujuan. Meskipun dalam prinsip dasarnya ia tidak dihubungkan dengan konteks tertenu, namun hingga kini politik selalu diasosiasikan kepada kekuasan. Sebab di sana seseorang perlu banyak cara menggapai tujuannya.

Hal inilah yang kemudian melahirkan banyak mazhab dalam politik, banyak cabangnya, banyak modelnya. Hal ini selalu dihubungkan dengan" fenomena baru dalam politik yang tidak dapat dijawab dengan pendekatan yang sudah ada sebelumnya.

Fenomena Ahok

Ahok mejadi hal yang fenomenal belakangan ini. Hal ini tidak lain karena aksinya yang tidak biasa jika dilihat dalam kacamata politik rata-rata di Indonesia. perbedaan itu setidaknya terlihat dalam empat hal:

1. "Anti" Partai

Terserah apa maknanya, namun saat ia memutuskan keluar dari Gerindra dan menolak bekerjasama dengan partai yang ada di DPRD DKI jelas ia sudah menolak kuasa partai dalam pemerintahannya. Jadinya jelas, cibiran dan serangan partai kepada Ahok segera membabibuta. Bahkan ada banyak kalimat yang menjelaskan betapa Ahok benar-benar tidak pantas memimpin Jakarta. berbagai jalan dilakukan oleh partai politik untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka.

Uniknya, Nasdem, Hanura, dan Golkar yang tidak lain adalah mantannya Ahok, malah sekarang mendukung Ahok. Sepertinya tindakan Ahok menolak Partai tidak berati apa-apalagi. Atau mereka merasa itu bukan sebuah hal yang keliru dalam politik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline