Lihat ke Halaman Asli

Aku Layak

Diperbarui: 24 Februari 2021   20:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Aku Sasha aku banyak melihat dan mendengar anak-anak lain yang begitu dipuji-puji oleh orang tua sampai para kerabat dari orang tuanya. Ketika kami sedang berkumpul di siang hari yang begitu cerah namun perasaanku tidak secerah matahari yang sedang memberikan kehangatannya. Aku berusaha untuk tidak mempedulikannya yang penting aku dapat bermain dengan senang.

Aku memang tak pernah menyangka waktu dewasaku akan ada pada titik kebahagiaanku seperti saat ini. Setelah banyak mendapat kata-kata buruk, pandangan-pandangan buruk orang bahkan keluarga kepadaku, dan begitu banyak drama yang telah ku lalui.

***

Udara pagi hari yang segar telah membangunkan semangatku untuk segera bergegas berangkat ke sekolah. Aku terbiasa untuk berangkat sekolah jalan kaki bersama temanku karena memang jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh. Aku sadar di kelas aku bukanlah siswa yang berprestasi, bukan juga murid kebanggaan guru. Tapi aku juga murid yang masuk dalam golongan nakal. Aku biasa-biasa saja, dan aku suka jajanan sekolah ataupun warung. Aku bukan juga anak yang cantik, tapi saat kecil orang tuaku bilang aku adalah anak yang manis.

Saat berkumpul dengan saudara, ada juga yang sebaya denganku aku selalu dibanding-bandingkan dengan mereka. Gigi tetapku yang telah tumbuh tidak serapi gigi susuku, warna kulitku yang bukan putih, postur tubuh yang gemuk dan pendek sering kali dibanding-bandingkan dengan mereka sampai saat aku mulai remaja

Di masa remajaku aku menjadi lebih kurus mungkin karena cape dan aku jalan kaki kurang lebih satu kilo meter dari akses angkutan umum ke rumah. Dan saat remaja juga aku mulai berpikiran yang lebih dewasa, lebih sensitif dengan kata-kata buruk yang ditujukan padaku membuat aku jadi kepikiran.

Tapi mereka bahkan orang-orang yang mengataiku menganggap tambah kurusnya badanku adalah karena aku mulai menyukai lawan jenis dan aku diet agar cantik. Selalu mengolok-olokku begitu, padahal aku tidak kepikiran dengan bagaimanapun fisikku yang penting adalah aku tidak sakit dan nyaman.

Prestasiku di sekolah juga menurun karena aku sering merasa cape dan sedih. Mereka tetap menganggap sebabnya adalah karena aku menyukai lawan jenis. Saat di sekolah aku curhat pada teman dekatku tentang aku yang sering merasa sedih, dia adalah Selfhy.

"Sel, apa fisik aku begitu membuat orang-orang yang melihatku tidak nyaman?" tanyaku pada Selfhy.

"tidak Sha, kamu ini bicara apa? Yang ada pada diri kamu itu sudah diberi yang paling sempurna" jawabnya yang selalu menyemangatiku.

Sering aku merenung sendiri karena ejekan-ejekan orang tidak jarang terngiang-ngiang di telinga dan pikiranku, tapi tak jarang juga aku cepat lupa begitu saja akan ejekan-ejekan orang itu. Ketika aku teringat kata-kata yang tidak menyenangkan padaku terkadang aku menangis sendiri di kamar tidurku, apa salahku pada mereka? Jika aku dapat memilih terlahir dengan fisik bagaimana, aku pasti akan memilih fisik yang mereka senangi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline