Lihat ke Halaman Asli

Satria Widiatiaga

TERVERIFIKASI

Guru Sekolah Alam

Sekolah Ramah Anak, Tapi Tidak Ramah Guru

Diperbarui: 22 November 2023   05:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Praktek KBM di Musholla:Dokpri

Pada hari yang panas itu, saya dan para murid menyempatkan berteduh di bawah papan nama "Sekolah Ramah Anak" yang ada di sekolah kami setelah lelah berolahraga. Salah satu murid pun bertanya, apa arti dari Sekolah Ramah Anak.

Mereka bukan sekedar menanyakan arti label 'Sekolah Ramah Anak', tetapi mereka mencurahkan hati kepada saya, bahwa di sekolah mereka masih baik-baik saja dan merasa aman di sekolah, jadi merasa bingung 'keramahan' seperti apa yang dimaksud pada label tersebut.

Di sekolah kami, memang sangat menerapkan prinsip sekolah inklusif sangat ketat, jadi komponen sekolah ramah seperti proses belajar yang friendly, memperhatikan hak-hak peserta didik, sarana dan prasarana ramah anak dan partisipasi penuh baik dari peserta didik dan orang tua wali, sudah berhasil kami terapkan dari sejak awal sekolah berdiri.

Hingga suatu hari dalam suasana 'keramahan anak' yang renyah antara guru dan muridnya, beberapa murid nyletuk mengejutkan  saya, "Pak Guru traktir makan kita semua ya pak.. hari ini kan Pak Guru lagi gajian"

"Waduh, kalau gaji bapak lebih besar dari orang tua kalian, pasti bapak traktir kalian di restoran, tapi berhubung tidak terlalu besar, cilok saja ya..", jawab saya merendah.

Kebanyakan para murid masih beranggapan gaji guru itu besar dan cukup sejahtera. Hal ini ironi  dengan suasana sekolah yang 'Ramah Anak' tetapi 'Tidak Ramah Guru'. Situasi 'Ketidakramahan' terhadap guru tidak hanya mengacu hanya semata-mata pada gaji saja, tetapi masih banyak lagi yang akan penulis terangkan dalam artikel ini.

Artikel ini tidak bermaksud menyerang sekolah dimana penulis bernaung, secara umum saya bahagia mengajar di sekolah saya tercinta. Tetapi saya berbicara permasalahan 'ketidakramahan' yang menghinggapi guru secara nasional di dalam berupaya 'ramah anak'.

Tulisan ini merupakan ironi para guru Indonesia yang berusaha mewujudkan 'Sekolah Ramah Anak', namun kontras dengan 'ketidakramahan' yang dialami para guru di dalam menjalankan misi-misi ramah anak tersebut.

Berikut beberapa hal yang membuat situasi sekolah yang 'Tidak Ramah Guru' secara umum sehingga menghambat para guru untuk mewujudkan 'Sekolah Ramah Anak'.

Guru Tidak Dihormati Oleh Murid dan Orangtua Wali

Banyak kasus penganiayaan terhadap guru akhir-akhir ini cukup meresahkan banyak pihak. Kasus di Sampang dimana guru dianiaya muridnya hingga tewas, hanya karena diingatkan agar tertib dalam pembelajaran. Lalu kasus di Lombok dimana orangtua wali yang melaporkan guru anaknya ke berwajib dan dituntut puluhan juta, hanya karena sang anak diingatkan shalat oleh gurunya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline