Lihat ke Halaman Asli

Fenomena Tutupnya Retail Raksasa

Diperbarui: 24 Juli 2019   17:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cuci gudang salah satu retail untuk melikuidkan asetnya/dream.co.id

Beberapa hari ini di kota saya sedang ramai diskon besar-besaran hingga 50% di salah satu retail ternama. Menurut informasi, retail tersebut akan segera tutup sehingga dilakukan CUCI GUDANG. Di beberapa daerah lain, jaringan retail tersebut sebenarnya sudah mulai tutup sejak 2017 lalu, namun tidak disangka akhirnya sampai juga penutupannya disini, padahal seingat saya belum 5 tahun. Karena penasaran saya sengaja mencari informasi di internet apa iya retail sebesar itu bangkrut.

Dikatakan bahwa retail "raksasa" tersebut sengaja menutup beberapa gerainya untuk direlokasi ke daerah yang lebih strategis dan berpotensi. Memang kalau dilihat dari lokasinya, dalam radius beberapa puluh meter saja sudah terdapat lebih dari 2 kompetitor. 

Bisa jadi bahwa daripada memaksakan bersaing ketat dengan tetangga terdekat, lebih baik pindah ke lokasi yang masih belum banyak pesaingnya, namun memiliki daya beli yang baik. Untuk itu, retail melakukan CUCI GUDANG untuk melikuidkan asetnya.

Fenomena tutupnya retail semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Di Amerika Utara sendiri sejak tahun 2010 terjadi penutupan retail dalam skala besar hingga dikenal dengan Retail Apocalypse atau retailpocalypse. Banyak faktor yang menjadi sebabnya seperti naiknya biaya sewa, ketidakmampuan retail membayar hutang, kebangkrutan, resesi ekonomi, hingga perubahan perilaku konsumen.

Toys R Us, salah satu retail raksasa yang sempat berjaya, kini resmi menutup seluruh gerainya pada 2018/thesun.co.uk

Suasana sepi salah satu mall di Amerika yang dikenal dengan retailpocalypse/slate.com

Terutama faktor yang terakhir, perilaku konsumen saat ini memang jauh berbeda semenjak adanya teknologi internet. Sudah bukan rahasia lagi kalau jual-beli online (apalagi yang menawarkan gratis ongkir) sangat diminati. Masyarakat dimudahkan dengan efisiensi waktu dan tenaga, mereka tidak perlu repot-repot pergi ke mall untuk belanja, cukup dari gadget saja. 

Untuk pembayaran pun juga dapat melalui mobile/internet banking atau layanan dompet online. Hal ini cukup berpengaruh terhadap kepadatan pengunjung di mall dan retail. Sebenarnya di Indonesia masih lumayan karena beberapa orang ada yang lebih senang datang ke mall untuk sekedar jalan-jalan atau benar-benar membeli barang yang mereka inginkan. Sedangkan di Amerika, seperti diberitakan Business Insider, mall benar-benar sangat sepi dan harus ditutup karena retail berjatuhan disana-sini.

Online shopping dikatakan menjadi salah satu pemicu tutupnya beberapa retail/molesko.com

Budaya kuliner menjadi salah satu bentuk berubahnya perilaku konsumen di Indonesia/konfrontasi.com

Perubahan perilaku konsumen berikutnya yaitu masyarakat jaman sekarang lebih menyukai gaya kulineran dibanding memasak di rumah (Republika, 2019). Terutama pada generasi muda, adanya media sosial semakin mendorong aktivitas kulineran. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline