Lihat ke Halaman Asli

Rijo Tobing

TERVERIFIKASI

Novelis

Menyambut Tahun Baru di Taipei Tanpa Pegal

Diperbarui: 10 Januari 2018   07:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tahun baru adalah momen bermakna bagi kebanyakan orang. Pada detik-detik menjelang tahun baru, manusia merayakan tahun yang baru saja berlalu dengan baik dan meluapkan optimisme untuk menyambut masa depan yang lebih cerah. Bagi keluarga saya sendiri detik-detik menjelang tahun baru adalah saat-saat untuk merenung, menata diri, dan mempersiapkan mental untuk menghadapi lebih banyak tantangan di hari-hari ke depan. Pada penghujung tahun 2017 lalu keluarga saya memutuskan untuk melakukan suatu hal yang baru pertama kali kami lakukan, yaitu berlibur selama tiga belas hari ke negara dan kota yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

Mengapa Taipei? Sebenarnya berlibur ke Taipei adalah suatu hal yang tidak pernah kami rencanakan. Selama satu tahun terakhir kami sudah mengatur jadwal perjalanan ke negara lain, namun apa daya, sedikit keterlambatan dalam menebus poin mileagemaskapai penerbangan langganan kami membuat harga tiket ke sana melambung sangat tinggi. Di tengah ancaman liburan yang bisa batal, pihak maskapai penerbangan menawarkan empat buah tiket ke Taipei untuk tanggal yang memang cocok dengan rencana kami semula.

Dalam traveling sebelumnya kami terbiasa berpindah kota sampai beberapa kali selama kami berada di suatu negara. Namun untuk liburan keluarga kali ini kami memutuskan untuk menginap di satu hotel selama tiga belas hari berturut-turut. Hal ini ternyata sangat berguna, karena saat mendarat di Taipei pada tanggal 21 Desember 2017 anak kedua kami demam tinggi dan kesehatannya harus dimonitor oleh Critical Diseases Center (CDC) Bandara Internasional Taoyuan. Jika kami mengikuti rencana awal untuk tinggal beberapa hari saja di Taipei kemudian pindah ke kota lain di bagian selatan Pulau Formosa ini, pihak CDC mungkin akan kesulitan untuk menghubungi kami dan mendapatkan update tentang kesehatan anak kedua kami.

Tantangan terbesar kami saat liburan ini adalah membuat anak kedua kami, seorang balita, bisa menikmati liburan sambil mengasah ketangguhannya dalam bepergian. Tidak ada masalah yang berarti untuk anak kami yang pertama yang berusia delapan tahun, karena dia sudah terbiasa traveling di berbagai medan dan dengan berbagai moda transportasi, kecuali masalah otot kaki yang pegal. Bagaimana tidak, dalam satu hari jalan-jalan mengeksplorasi Taipei kami melangkah antara sembilan ribu langkah (jika kami berjalan-jalan di dalam kota) sampai tujuh belas ribu langkah (jika kami hiking ke gunung-gunung yang mengelilingi Taipei). Untuk mengantisipasi rasa lelah berlebihan karena kami berjalan kaki terlalu lama, kami selalu membawa Geliga Krim di tas ransel yang berisi pakaian ganti untuk anak-anak, dan makanan ringan dan minuman untuk kami sekeluarga.

Sebelum mendarat di Taipei kami sudah mendapatkan informasi bahwa puncak perayaan dan kemeriahan pergantian tahun di kota ini akan dipusatkan di Taipei 101. Taipei 101 adalah gedung pencakar langit tertinggi di Taiwan yang menjulang setinggi 509,2 meter. Rekor sebagai gedung percakar langit tertinggi di dunia dipegang oleh Taipei 101 sampai tahun 2010 ketika Burj Khalifa di Dubai selesai dibangun. Dari berbagai informasi yang kami dapatkan, pada malam pergantian tahun akan ada panggung musik di sekitar Taipei 101 yang dimeriahkan oleh artis-artis kenamaan Taiwan, namun puncak acaranya adalah kembang api yang akan dimulai tepat pada detik ke-1 di tahun 2018.

Enam hari sebelum tahun baru kami mengeksplorasi daerah di sekitar Taipei 101 untuk mengira-ngira tempat untuk mendapatkan view terbaik pertunjukan kembang api. Kami hiking ke Gunung Xiangshan atau Elephant Mountain yang hanya berjarak satu stasiun dari Taipei 101. Perjalanan mendaki Gunung Xiangshan cukup menantang karena tangganya yang sempit dan anak tangga yang sangat banyak dan terletak agak tinggi antara satu dengan yang lain. Untung saja kami selalu sedia Geliga Krim untuk Jalan Asik yang Bebas Pegal

Sebelum mencapai viewing pavilion untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari Taipei 101 dan landscape di sekitarnya, kami berhenti sekitar dua kali untuk mengoleskanGeliga Krim di betis dan pergelangan kaki kami dan anak-anak. Sensasi rasa dinginnya yang menyegarkan dan baunya yang tidak menyengat sangat disukai oleh anak-anak dan membantu membuat otot kaki mereka rileks kembali. Gunung Xiangshan menjadi salah satu tempat favorit penduduk Taipei untuk menonton pertunjukan kembang api pada malam tahun baru, namun tempat ini tidak menjadi pilihan kami karena jalan yang sulit untuk dilalui pada malam hari, apalagi sambil membawa anak kecil.

taipei-dari-gunung-xiangshan-5a54f07a16835f1c77246112.jpg

tangga-gunung-xiangshan-yang-curam-jpg-5a5503ad5e137324f9383552.jpg

viewing-deck-di-atas-gunung-xiangshan-1-jpg-5a5503a4caf7db274b44c502.jpg

wefie-dari-viewing-pavilion-gunung-xiangshan-jpg-5a550383bde57528cd2f8232.jpg

Pada tanggal 31 Desember 2017 kami hiking ke Taman Nasional Yangmingshan yang terletak di bagian utara kota Taipei. Taman nasional ini bisa diakses dengan bis dari stasiun-stasiun MRT yang sangat populer di antara turis, yaitu stasiun MRT Shilin dan Jiantan. Perjalanan dari kota sampai pusat informasi turis di gerbang taman nasional menghabiskan waktu sekitar empat puluh menit. Jalan menuju ke taman nasional diaspal dengan mulus, dan ada banyak restoran dan kedai kopi franchise international yang bisa jadi tempat untuk makan dan melepas lelah otot dengan cara mengoleskan Geliga Krim sebelum melanjutkan hiking ke beberapa tempat atraksi di taman nasional ini.

peta-taman-nasional-yangmingshan-jpg-5a54f77dab12ae247b0d73e2.jpg

hiking-di-yangmingshan-park-5a54f78fab12ae23bb3427c4.jpg

Pada pukul enam sore kami memutuskan turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Taipei 101. Masih ada lima jam menjelang tutup tahun tapi stasiun MRT dan area di sekitar gedung Taipei 101 sudah penuh sesak dengan manusia. Ada begitu banyak polisi dan relawan dikerahkan untuk mengarahkan massa yang membludak supaya tetap bisa keluar dan masuk stasiun dengan mudah. Foodcourt di dalam mal Taipei 101 juga sangat ramai. Kami membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan kursi saja. Walhasil kami baru bisa keluar dari mal untuk mencari spot terbaik untuk menonton kembang api pada pukul sembilan malam.

penghujung-2017-di-taipei-101-jpg-5a5505af5e137324f748ef32.jpg

wefie-dengan-taipei-101-jpg-5a5505accaf7db23934b9c93.jpg

keramaian-tahun-baru-di-taipei-101-jpg-5a5505bfcaf7db28f35ab012.jpg

Taipei pada masa liburan akhir tahun dibanjiri manusia dari berbagai negara. Turis asing yang kami sering jumpai adalah dari Filipina, Korea, Jepang, dan negara Barat, dan banyak dari mereka yang khusus datang untuk menikmati kembang api tahun baru di Taipei 101. Kami sudah mulai lelah karena sudah beraktivitas sejak pagi. Waktunya untuk duduk sejenak dan mengoleskan kembali Geliga Krim untuk menyegarkan otot dan memperbaharui semangat bergabung dengan kerumunan manusia di sekitar Taipei 101.

duduk-sejenak-jpg-5a5505d3caf7db287028bb32.jpg

Semua jalan protokol di sekitar Taipei 101 ditutup untuk pejalan kaki. Sepanjang jalan musik berdentum menghibur penduduk kota dan para turis yang berduyun-duyun mencari tempat terbaik untuk menyaksikan kembang api. Area di bawah gedung Taipei 101 sendiri ditutup dengan radius tiga kilometer sebagai wilayah untuk pelaksanaan kembang api. Kami dan beribu-ribu orang lainnya bergerak menuju ke arah stasiun MRT Taipei City Hall untuk menunggu jam dua belas malam berdentang.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline