Lihat ke Halaman Asli

Ria Mi

Menulis memotivasi diri

Perjalanan Malang-Blitar-Ponorogo, Apa yang Kucari

Diperbarui: 17 Februari 2020   01:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Akan aku mulai dari mana kisah ini. Semua begitu menarik, bermunculan silih berganti. Awalnya aku ingin sekali mengetik ini di HP, tapi jariku terasa kurang puas jika mataku tak menatap laptop. Hingga ku tulis yang penting-penting baru hari Minggu malam ini kuselesaikan. 

Bersama Organisasi MGMP(Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia Kabupaten Malang aku mengikuti perjalanan Ngangsu Kawruh(bahasa Jawa). 

Kegiatan studi banding ini sebenarnya sudah dimusyawarahkan dan di komunikasikan oleh pengurus MGMP bapak DR. Hadi Wardoyo ke Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan Kepala sekolah jadi saya mendapat restu dari kepala sekolah untuk mengikuti kegiatan MGMP Bahasa Indonesia ke luar daerah selama dua hari satu malam mulai Jumat sore hingga Sabtu Malam, 14-15 Februari 2020.

Kami bertiga puluh lima berangkat dari Malang hari Jumat selesai solat ashar. Bis menjemput dari Singosari, Arjosari, Gadang, Panjen dan Blitar. Sampai di tempat yang dituju yaitu Monumen PETA Blitar sekitr pukul 8.30. Sebelunya kami diajak mampir ke salah satu teman dekat  ketua studi banding yaitu Ibu Agustin. 

Wah keramahan, kopi dan suguhannya soto lontongnya menemani kami yang kedinginan karena berangkatnya diguyur hujan deras. Kurang lebih empat puluh menitan kami beramah-tamah setelah itu kami di antar menuju monumen PETA Blitar untuk menyaksikan drama kolosal untuk memperingati pemberontakan PETA yang ke-75.

Sampai di Monumen hujan, panggung terbuka. Apakah itu menyurutkan kami? Tidak. Kami bertiga puluh lima tetap memasuki gerbang monumen. Karena Bapak Aguswin selaku ketua rombongan sudah sangat akrab dengan sang sutradara kami dipersilakan masuk, bahkan diminta tanda tangan hadir menyaksikan dengan sangat ramah oleh panitia. Juga mendapat sambutan dengan kue . 

Wah semangat penyelenggara, pemain sudah menghipnotis kami. Sungguh ini pengalaman yang tak bisa di beli dengan apa pun. Perasaanku sendiri tiba-tiba merasa begitu terharu ketika menyanyikan lagu Indonesia raya di tengah gerimis.

Drama kolosal dimulai. Kami rasakan hadirnya Jepang saat itu. Merinding sekali. Aku sendiri tidak pernah menyaksikan itu secara nyata. Tapi air mataku tiba-tiba menetes ketika drama itu menyampaikan, Jepang telah berubah, Jepang menjadi kejam. Begitu para pemain sangat menjiwai menggambarkan romusa. 

Oh, aku begitu kagum pada Supriadi. Pemuda cerdas, tangkas, cinta tanah air tak memikirkan apa yang akan diberikan negara ketika nyawanya melayang demi negara dalam cerita itu. Ia begitu menggelorakan jiwaku untuk semakin memantaskan diri menjadi guru yang terus belajar dan menjaga pemuda ini dari kerapuhan jiwa.

Hujan masih tetap mengguyur. Kami bertudung plastik yang kami beli dari pedagang keliling di monumen itu. Rintik hujan itu seakan menjadi vitamin bagi pemain untuk lebih menjiwai. Puncaknya perang pun terjadi. Penyobekan bendera jepang, lalu digantikan dengan bendera merah putih pun menambah gelora kami untuk tidak meninggalkan monumen. Drama berakhir dengan terikan "Saya Supriadi!" Diikuti oleh pejabat dan seluruh penonton. Drama semacam ini memang sangat bagus untuk di saksikan generasi muda agar generasi tahu bahwa negeri ini hasil perjuangan pahlawan tanpa pamrih.

Kami melanjutkan perjalanan denga perasaan haru dan bangga. Betapa bahagia dan bersyukur melihat para pemain begitu antusias, berdedikasi dan menghayati, memberikn sinyal generasi kita cinta Indonesia. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline