Lihat ke halaman asli

Retty Hakim

Senang belajar dan berbagi

TERVERIFIKASI

Mulai menulis untuk portal jurnalisme warga sejak tahun 2007, bentuk partisipasi sebagai warga global.

Han Awal, Maestro yang Tak Pernah Berhenti Belajar

Diperbarui: 18 Mei 2016   10:02

Han Awal, Dipl. Ing dengan karya lukisan kaligrafinya pada pembukaan pameran tahun 2010 (foto koleksi Maria Awal Sucipto)

Tanggal 16 Mei 2016 pukul 16.00, Indonesia kehilangan seorang arsitek senior Han Awal Dipl. Ing, yang berpulang dalam usia 85 tahun. Berbagai kalangan, terutama yang bergiat dalam dunia arsitektur di Indonesia, menyatakan kehilangan akan kepergian arsitek lawas yang pernah belajar di Delft, Belanda, dan menuntaskan pendidikan arsitekturnya tahun 1960 di Technische Universitat, Berlin Barat.

Lahir di Malang, 16 September 1930, beliau kemudian mendapatkan beasiswa untuk belajar ke Belanda. Pendidikannya di Eropa saat itu tampaknya tergaris kuat dalam desain-desainnya yang kebanyakan mencirikan gaya arsitektur modern. Beliau adalah orang yang sederhana, rendah hati dan senantiasa murah hati untuk berbagi ilmu. Tetapi yang lebih mempesona saya secara pribadi adalah kerendahan hatinya untuk terus belajar, suatu contoh yang sangat berharga bagi generasi muda yang seringkali cepat puas dengan hasil yang sudah dicapai.

Enam tahun yang lalu, saya terpana ketika melihat di akun facebook putrinya foto pembukaan pameran kaligrafi yang juga menampilkan karya Om Han, demikian saya memanggil beliau. Ketika bertemu, dengan rendah hati beliau berkata, "Saya masih belajar." 

Kejutan lain juga terjadi ketika pada tanggal 22 Mei 2011, saya mendengar bahwa beliau ikut dalam pelatihan menulis "Senang dengan Berbagi Tulisan" yang diadakan di gereja Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q, Kebayoran Baru. Beliau tidak sungkan untuk berbaur dengan umat paroki lainnya untuk belajar menulis bersama pada orang-orang muda yang ketika itu datang berbagi ilmu.

Padahal, sosok Han Awal pada waktu itu sudah sangat terkenal terutama karena pekerjaan konservasi yang dilakoninya. untuk Gedung Arsip Nasional membuahkan Award of Excellence dari UNESCO Asia-Pacific Heritage Award pada tahun 2001. Selain itu, beliau meraih penghargaan Prof. Teeuw pada tahun 2007 karena dianggap berjasa meningkatkan hubungan kebudayaan Belanda dan Indonesia.

Saya mengenal beliau sejak masih remaja muda karena pertemanan dengan putrinya. Saya masih ingat kami harus melewati kantor beliau untuk menuju ke rumahnya. Ya, atelier atau ruang kerjanya terletak di bagian depan rumahnya dulu di Tulodong Bawah. Kalau saya tidak salah ingat, saya pernah mendengar bahwa itu adalah salah satu caranya untuk dekat dengan keluarga.

Pasti banyak yang memiliki kenangan pada kantor beliau di daerah Tulodong itu, karena cukup banyak mahasiswa magang maupun sarjana yang baru lulus yang bekerja di sana. Bahkan tercetusnya wadah Arsitek Muda Indonesia di tahun 1990 juga berawal dari pertemuan-pertemuan di ruang kantor Han Awal & Partners. Sekali lagi dengan rendah hati, beliau menanggapinya dengan ringan, "Itu kan kerjaan Yori dan teman-temannya." Memang, putranya Yori Antar mengikuti jejaknya menjadi arsitek. Arsitek-arsitek muda yang saat itu berkumpul, tanpa memandang asal universitas, kemudian menjadi awal pergerakan arsitek muda yang dengan semangat, kritis, dan keterbukaan, berusaha mendobrak stagnasi arsitektur di Indonesia.

Padahal saya ingat benar, beliau membagikan konsep dasar pembangunan gedung kampus Universitas Atmajaya yang berdasarkan konsep yang sama yang digunakan Bung Karno untuk pembangunan Monumen Nasional, Kepala-Badan-Kaki. Penggalian nilai-nilai tradisional tidak selalu berasal dari ornamen desain, tetapi bisa juga berangkat dari filosofi.

Ketika rumah dan kantornya terkena penggusuran untuk proyek Sudirman Central Business District (SCBD), barulah kantor dan rumah tinggal Han Awal berpisah lokasi. Tapi sepertinya ia tidak lepas dari sikap menyokong arsitek muda yang baru lulus. Salah satu arsitek muda yang pernah bekerja di Han Awal & Partners dari tahun 2004 - 2008, Margareta Amelia Miranti, berbagi di instagramnya bagaimana ia akan kehilangan sapa yang hangat dan senyum yang teduh dari seorang guru yang terkasih. Beda dua generasi bukan halangan baginya untuk mengajarkan bagaimana menjadi rendah hati dan terus mengerjakan yang terbaik dengan sepenuh hati.

Satu kutipan nilai dari instagram Miranti menarik perhatian saya, "Setiap orang punya value masing-masing. Kita harus hargai dan dengan sendirinya itu akan memperkaya diri kita sendiri." Ungkapan ini bukan sekedar perkataan, karena memang beliau sungguh-sungguh menjalankannya. Walaupun sejak awal saya memasuki kuliah di jurusan arsitektur hingga memasuki dunia kerja, beliau selalu membantu dengan nasehat dan sharing ilmunya, tapi tidak pernah sekalipun saya mendengar ia menyayangkan ketika saya memilih untuk lebih mendahulukan keluarga daripada bekerja.

Han Awal konsisten dalam membagikan ilmunya dengan murah hati. Beliau juga konsisten untuk terus berkarya dalam konservasi bangunan tua.

Halaman Selanjutnya

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline