Lihat ke Halaman Asli

Polisi, Warga, Ketakutan dan Petasan

Diperbarui: 26 Juni 2015   03:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ramadan harusnya menjadi bulan yang indah, damai dan penuh rasa saling menghargai. Itu hakikatnya, tapi beda kenyataanya. Malah ramadan menjadi kegelisahan dan ketakutan. Setidaknya inilah yang menimpa saya dan mungkin juga sebagian orang diluar sana.

Kalau ada petuah bijak mengatakan, kegelisahan dan cobaan dalam bulan ramadan adalah ujian bagi seorang muslim. Apakah sanggup menjalankan ibadah menahan segala hal selama sebulan penuh. Kelihatannya memang mudah dan gampang saja, tapi tidak untuk sebagian orang, termasuk saya dan mungkin juga anda.

Bukan cobaan akan ketulusan menjalankan ibadah yang menjadi ketakutan saya ketika ramadan datang. Sebaliknya, cobaan yang sudah menjadi hal lumrah ketika bulan suci ini tiba. Terkadang apa yang saya bicarakan ini menjadi kesenangan untuk sebagian orang, tapi tidak untuk saya, ini menjadi ketakutan.

Petasan dan kembang api. Itulah yang saya maksudkan. Saya takut, kalau hal ini membawa mala petaka di masyarakat. Saya takut kalau ini membuat orang terluka bahkan harus merenggut nyawa. Bukan tidak mungkin itu terjadi, dan sudah menjadi kenyataan dibeberapa wilayah, petasan dan kembang api ini telah merenggut nyawa.

Dimana saya duduk saat ini, hal itu terjadi. Walau belum menelan korban jiwa, setidaknya telah membuat orang terluka dan mengalami kerugian. Seorang wanita pahanya berdarah, dan seorang lelaki komputer jinjingnya rusak akibat petasan yang diledakkan sekolompok pemuda tanpa rasa tanggung jawab.

Awalnya suasana tenang, hanya sekali-kali suara ledakan terdengar dari luar. Menggelegar, menggetarkan dada, dan memompa jantung bagi yang jantungan. Itulah sekelumit rasa yang bisa saya gambarkan disini. Semua walau merasa terganggu, tetap tenang-tenang di tempat duduknya.

Hingga muncul satu petasan yang meleset masuk ke kerumunan pengunjung di salah satu cafe di Makassar. Maklum cafe yang buka 24 jam diluar ramadan ini, tidak memiliki dinding sebagai penghalang. Hanya besi-besi yang dibentuk selang seling sebagai penyanga dan pembatas dunia luar.

Petasan yang dinyalakan dari luar tiba-tiba terbang kedalam dan membuat seorang pria ketakutan karena petasan itu tepat dikakinya. Komputer jinjing yang ia pegang lantas dijatuhkan begitu saja untuk menendang petasan yang hampir saja meledak, tapi naas, petasan itu keburu kesetanan dan boom, meledak. Untung bagi lelaki itu, naas bagi perempuan di depannya.

Petasan itu meledak tepat di pahanya dan berdarah. Alhasil suasana yang tadinya adem ayem, berubah menjadi ketakutan dan riuh. Mencari dari mana asal petasan itu. Dasar tidak tahu malu, sekolompok pemuda yang sedari tadi berada di sudut jalan dimana cafe ini terletak, menghilang bagai jin yang ketakutan. Blusssss....

Saya tidak ingin menyalahkan pemuda-pemuda itu. Walau telah membuat kegaduhan dan kegelisahan, saya sadar mereka butuh sentuhan dan pemahaman khusus dari orang tua dan lingkungannya. Mereka hanyalah korban, korban dari penjual petasan dan korban akan ketidak mampuan polisi memberantas penjualan petasan.

Entah sengaja atau tidak. Atau malah terlampau tolol. Polisi selalu kecolongan aksi penjual belian petasan ini. Padahal sudah sejak namanya petasan ini ada, hingga kini, setiap bulan ramadan itu diperjual belikan, tapi tak satupun yang mampu diamankan polisi, setidaknya dimana saya berdomisili saat ini, Makassar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline