Lihat ke Halaman Asli

Rafi Sugema

Seberkas catatan penuh makna di sela waktu luang

Mempertahankan Eksistensi Tanaman Pala sebagai Upaya Pelestarian Warisan Budaya dan Pemajuan Kebudayaan Indonesia

Diperbarui: 21 Juni 2021   12:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang di garis khatulistiwa dengan ragam budaya dan potensi sumber daya alam yang melimpah. Negara dengan iklim tropis yang secara geografis sangat strategis karena diapit oleh dua benua dan dua samudera. Sejarah mencatat sejak abad ke-5 perairan Indonesia kerap menjadi jalur perlintasan perdagangan dan pelayaran internasional antara China dan India.

Sebab itu pula, sebagaimana disinggung dalam kronik Tiongkok dan India, para pedagang dari Nusantara yang hari ini dikenal sebagai sebagian wilayah Negara Indonesia telah menguasai niaga komoditas berbau harum, yakni cengkih dan pala. Kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan yang berkuasa di Nusantara dikenal sebagai penguasa di kawasan barat hingga tengah sejak abad ke-8 hingga abad ke-10. 

Kerajaan ini mengontrol seluruh lintas laut bangsa Barat dan Tiongkok yang saat ini dikenal sebagai wilayah China menuju rute kepulauan rempah-rempah dan Selat Malaka. Rempah saat itu bukan hanya sekedar komoditi yang berdampak pada perkembangan ekonomi, namun juga dalam skala lokal dan global mempengaruhi nilai dan gaya hidup masyarakat baik dari sisi politik, sosial dan budaya.

Bagi bangsa Indonesia rempah bukan hanya sekedar warisan alam yang melimpah melainkan juga sebagai warisan budaya. Pala salah satunya, sebagai tanaman rempah asli Kepulauan Banda yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan berhasil menjadi rempah kelas dunia. Tamanan pala yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat menjadikan Kepulauan Banda sebagai tempat bertemunya banyak manusia dari berbagai agama, bahasa dan budaya yang saling bertukar dan melebur. 

Seperti yang dilansir dari The Guardian, bahwa pala menjadi sumber kehidupan di Kepulauan Banda dan kemungkinan besar berevolusi selama berabad-abad lamanya. Sejarah pala di Kepulauan Banda tersendiri bisa ditelurusi jauh hingga abad ke-6 yang pada saat itu telah berhasil menembus pasar ekspor Byzantium salah satu bagian wilayah kekaisaran Romawi Timur yang berjarak 12.000 kilometer dari Kepulauan Banda.

Masa kejayaan rempah Nusantara hingga abad ke-18, menjadikan Nusantara sebagai kawasan bersejarah yang mewariskan banyak legenda terkait dengan jalur rempah. Para pedagang dari berbagai penjuru dunia datang untuk memburu rempah-rempah terbaik dari bumi nusantara yang melimpah ruah. Jalur perdagangan ini menjadikan Nusantara sebagai emporium global di mana bangsa-bangsa dari berbagai penjuru dunia yang semula hanya mendengar legenda surga rempah-rempah Nusantara, lantas berbondong-bondong melakukan jelajah bahari untuk mencapai letak surga itu.

Menurut Jack Turner dalam bukunya “Spice: The History of Temptation” rempah-rempah sangat disukai karena memiliki berbagai macam khasiat seperti penangkal penyakit, bahan dasar kosmetik, pengawet makanan, penyedap, dan olahan produk lainnya. Dari semua jenis rempah-rempah Nusantara terdapat rempah yang paling penting dan paling dicari yaitu cengkih dan pala. 

Seperti yang dikatakan oleh Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515), “Tuhan telah menciptakan Banda untuk pala dan Maluku untuk cengkih, dan barang dagangan ini tidak dikenal di dunia ini terkecuali di dua lokasi tersebut. Saya telah bertanya dan menyelidiki dengan teliti: Apakah barang ini dapat ditemukan di tempat lain? Semua orang menjawab: Tidak!”

Pada perkembangannya tamanan pala yang semula hanya dapat dibudidayakan di Kepulauan Banda lantas mulai menyebar ke beberapa daerah Nusantara, Hal tersebut bersamaan dengan perjalanan Marcopolo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa dari tahun 1271-1295. Sejak saat itu budidaya tamanan pala terus meluas ke pulau Jawa sampai dengan pulau Sumatera. 

Menurut Bambang Budi Utomo yang merupakan salah seorang arkeolog senior di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengatakan bahwa pengaruh kedatangan bangsa Eropa saat itu menyebabkan tanaman tersebut tersebar dan dapat dibudidayakan di luar Kepulauan Banda.

Purwakarta sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang secara geografis terdiri dari dataran tinggi sampai dengan dataran rendah menjadi salah satu titik penyebaran tanaman pala di pulau Jawa. Pala yang tumbuh di Purwakarta mayoritas terdapat di daerah dataran tinggi, seperti Wanayasa, Bojong, Kiarapedes dan Darangdan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline