Lihat ke Halaman Asli

Himam Miladi

TERVERIFIKASI

Penulis

Di Balik Mural yang Dihapus, Ada Moral yang Tergerus

Diperbarui: 18 Agustus 2021   15:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Salah satu mural yang dihapus oleh aparat menandakan ada moral yang tergerus. Sumber: Tribunnews.com

Alasan Absurd Penghapusan Mural dan Grafiti oleh Aparat Keamanan

Lucu, sekaligus sangat aneh. Ada mural bergambar wajah mirip Presiden Jokowi bertuliskan 404: Not Found, pelakunya diburu polisi. Mural itu pun sudah dihapus oleh aparat keamanan. 

Lucunya, yang dihapus hanya pada bagian wajah. Sementara potongan gambar lainnya tetap dibiarkan.

Lebih lucu lagi, alasan polisi memburu pelukis mural itu karena menghina presiden sebagai lambang negara. Padahal, mural yang terlukis di sebuah tembok di kawasan Batuceper, Kota Tangerang ini tidak menyebut nama. Tidak ada tulisan Jokowi, hanya 404: Not Found. Dan, wajah yang terlukis hanya mirip, tidak sama persis.

Tidak hanya mural bergambar wajah mirip Jokowi saja yang dihapus, beberapa waktu lalu mural di dinding sudut bangunan di Bangil, Pasuruan juga dihapus. Mural bertuliskan Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit ini dihapus Satuan Polisi Praja Kota Pasuruan dengan alasan vandalisme karena tidak ada ijin dari pemilik bangunan. 

Padahal kalau dilihat dari foto yang viral di media sosial, bangunan tersebut terlantar. Adanya mural tersebut malah menutupi kondisi bangunan yang tidak terawat sehingga nyaman dipandang setiap pengendara yang lewat di depannya. 

Mundur sedikit ke belakang, grafiti berbunyi Tuhan Aku Lapar yang ditulis di tembok pembatas jalan raya juga dihapus. Kasus ini lebih lucu lagi karena grafiti itu tidak mengkritik siapa pun. Hanya keluh kesah pembuatnya kepada Tuhan. Meski begitu, aparat keamanan tetap menghapusnya. 

Pantaslah apabila netizen kemudian menggemakan tagar #Jokowi404NotFound di dunia maya, sebagai ungkapan protes atas tindakan aparat keamanan Kota Tangerang ini. Netizen menganggap penghapusan mural dan respon polisi yang memburu pelukisnya merupakan bentuk pengekangan kebebasan berpendapat dan kreativitas seni.

Harus diakui, banyak yang menganggap seni mural dan grafiti sebagai bentuk aksi vandalisme. Namun, definisi vandalisme itu hanya bisa kita tempatkan apabila karya seni mural dan grafiti dibuat tanpa tujuan, hanya sekedar coret-coret belaka. 

Sejarah Mural dan Grafiti Sebagai Media Kritik dan Propaganda

Sejak jaman prasejarah, mural dan grafiti sudah dijadikan sarana komunikasi, untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat yang sulit dikatakan oleh lidah manusia. Kita bisa melihatnya di lukisan-lukisan gua manusia prasejarah.

Pada masa Romawi, rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan kaisar Nero menuangkan rasa ketidakpuasan mereka lewat mural dan grafiti. Bukti lukisan mural dan grafiti ini ditemukan arkeolog saat menggali reruntuhan kota Pompeii.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline