Lihat ke Halaman Asli

Petrus Kanisius

TERVERIFIKASI

Belajar Menulis

Mengapa Alam Selalu Disalahkan Ketika Bencana Terjadi?

Diperbarui: 17 Oktober 2022   15:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto banjir yang terjadi di beberapa kecamatan di Ketapang, kalbar. (Foto dok : BPBD Kalbar via kompas.com).

Alam tidak bersahabat dengan kita.  Mungkin Tuhan mulai bosan. Itu beberapa kalimat yang sering terdengar. Bahkan, lagu pun ada yang menybutkan demikian. Tetapi, apa benar alam yang salah dan Tuhan yang mulai bosan? Atau itu kalimat untuk pembenaran bahwa manusia tidak mau disalahkan.

Setiap bencana alam, alam yang disalahkan. Sejujurnya, bumi dan alam ini kian menangis dari waktu ke waktu. Itu tak lebih karena ulah pongah kita manusia.

Tidak ada asap jika tidak ada api. Ada sebab, ada akibat. Banjir biasa hingga banjir bandang sudah semakin sering mendera beberapa wilayah di Indonesia, tidak terkecuali wilayah Kalimantan, lebih khusus di beberapa wilayah Kabupaten di  Kalimantan Barat (Kalbar).

Seperti misalnya, baru-baru ini di Wilayah Kabupaten Ketapang, Kalbar, banjir mendera wilayah Kecamatan seperti ; Simpang Hulu, Sandai, Jelai Hulu Tumbang Titi, Nanga Tayap, dan beberapa kecamatan  lainnya Seperti Sungai Laur, Manis Mata dan Pemahan.

Tentu saja, banjir yang terjadi ini ketika curah hujan yang tinggi dan daya resapan air yang semakin menurun akibat luasan hutan yang semakin sedikit dan tak mampu lagi menyerap air ketika hujan turun terus menerus sepanjang hari. Bahkan, ketika hujan yang terjadi 2-3 hari maka sudah dipastikan banjir siap mendera tiba-tiba.

Benar saja, persoalan banjir ini dari tahun ke tahun terus berulang. Entah kapan akan berakhir. Tetapi sekiranya, bila terjadi bencana bukan alam  (janganlah) alam yang disalahkan.

Tentu kita ingat, Sang Kuasa (Tuhan Yang Maha Esa) memberikan hutan, tanah air (bumi/alam) ini sebagai titipan bukan warisan.

Ketika ia (bumi/alam) ini sebagai titipan, tentu ia harus digunakan sesuai kebutuhan, bahkan kiranya dirawat, bukan karena ketamakan untuk mengasai hingga menyakiti bumi/alam ini. Bukankah,  kita dan alam ini sejatinya harus harmoni untuk selalu seiring sejalan.

Melihat banjir yang mendera dan melanda, tentu ini bukan sejalan lagi, tetapi nilai-nilai harmoni itu sudah semakin terkikis ibarat sama nasibnya dengan alam ini pada hari ini.

Bumi atau alam ini usianya sudah semakin tua renta, sudah semakin sulit untuk sembuh dari sakit penyakit yang ia dera dan terima karena sedikit banyak ulah kita manusia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline