Lihat ke Halaman Asli

Haryadi Yansyah

TERVERIFIKASI

Penulis

Menyelami Kisah Remaja Sutradara Steven Spielberg dalam Film "The Fabelmans"

Diperbarui: 25 November 2022   16:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sam, saat membuat film. Sumber gambar IMDB.

"Coba ajak ayah nonton bioskop ntar malam."

Itu yang ibu "perintahkan" kepada saya dulu. Sekitar tahun 90-an saat saya berusia sekitar 5-6 tahun. Setelahnya, dengan cepat saya turun dari rumah panggung, menuju toko di bagian bawah untuk menyampaikan pesan itu ke bokap.

Nggak selalu mulus permintaan itu, tapi begitu ajakan itu berhasil, itu artinya saya, kakak dan orang tua akan menikmati momen-momen berada di bioskop. Walaupun, yeah, sesaat memasuki studio biasanya saya akan tertidur. Atau, kalau lagi beruntung melek dan menunjukkan adegan "romantis" di layar, orang tua akan sibuk menutup mata kami (saya dan kakak) menggunakan tangan mereka*.

Saya menikmati setiap momen yang ada. Biasanya, sebelum berangkat, orang tua akan membawa camilan martabak bangka. Walaupun sesampai di bioskop saya akan tetap merengek minta dibelikan permen milton atau permen pagoda.

Poster film The Fabelmans. Sumber gambar IMDB.

Itu siklus yang berulang. Rasanya, baru saat Speed (1994) tayang di bioskop, baru saya dapat menikmati film dari awal sampai akhir. Itu pun saya ingat betul penjual karcisnya bilang, "nonton ini aja, Pak. Film aksyen, dan gak ada adegan itunya." Hehehe.

Ingatan-ingatan ini yang mendadak muncul saat saya menonton The Fabelmans. Film yang menceritakan secuil masa kecil hingga remaja sutradara Steven Spielberg lewat tokoh Sammy Fabelman yang begitu takjub dan terpukaunya saat pertama kali diajak oleh orang tuanya Burt Fabelman (Paul Dano) dan Mitzi Fabelman (Michelle Williams) menonton di bioskop.


Sammy kecil (Mateo Zoryan) begitu tersihir dengan adegan tabrakan kereta api yang ia tonton di bioskop. Lalu, dengan mainan yang ia punya, Sam berusaha mereka ulang adegan itu di rumah.

Sam yang begitu tersihir saat menonton film pertama kali di bioskop. Sumber gambar IMDB.

Ia makin bersemangat saat ibunya meminjamkan kamera milik ayahnya.  Mulanya Sam menggunakan kamera itu secara diam-diam. Namun, belakangan ayahnya membiarkan apalagi diam-diam Burt ikutan takjub dengan film sederhana yang Sam buat dengan kedua adiknya.

Burt bekerja dalam bidang teknologi bersama sahabatnya Bennie (Seth Rogen). Keduanya "jenius" dan saling membutuhkan satu sama lain di keahlian masing-masing.

Makanya, saat Burt mendapatkan tawaran pindah ke Phoenix, Arizona, Mitzi sempat marah sebab Burt akan meninggalkan Bennie. "Kau harus punya cara untuk turut serta membawa Bennie," ujar Mitzi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline