Lihat ke Halaman Asli

gahpraja

Pelajar

Mencari Nirmala

Diperbarui: 15 November 2023   09:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

NIRMALA! Jika kalian mendengar teriakan dari perempuan tua nan lusuh dengan rambut ikalnya berantakan mengitari seluruh kampung kami di Tajurhalang. Maka sebaiknya kalian menghindar, seperti pada orang gila umumnya, Nek Wiranti, biasanya akan mencegat salah satu perempuan dan mengajaknya pulang ke 'rumah' dimana kami sendiri tidak tahu persis rumah yang diucapkan Nek Wiranti.

Nirmala! Nirmala! Sebutnya sambil memegang beberapa bongkah lilin yang mungkin ia curi dari warung Pak Srimin, sepupu ketua kampung yang berulang kali menyuruh saudaranya itu membawa Nek Wiranti jauh dari kampung. Pernah juga Nek Wiranti mencuri sekotak lilin, salah satu warga hendak menyergapnya. Namun, Pak Srimin memilih tidak ambil repot.

"Buat apa lapor polisi, toh dia pun orang yang rada-rada," tuturnya sambil mengangkat telunjuk ke dahi lalu memiringkannya ke kanan. Saudaranya itu terlalu sibuk dengan proyek tol yang digadang-gadang walikota.

Ustad Ranuma, mengatakan kepada kami sebaiknya Nek Wiranti jangan dijadikan bahan permainan atau membuatnya semakin terpojok. Mengingat warga akhir-akhir ini warga sering mengganggu Nek Wiranti dengan mengambil lilin yang berada di tangannya, membawanya kabur sampai Nek Wiranti berlari dan tersungkur di jalan. Lebih suci apabila kami membantunya memberi makan, kalau bisa merawatnya hingga ke rumah sakit jiwa. Namun, siapa peduli?

Kadang Nek Wiranti lewat di pos ronda ketika malam, sudah menjadi kebiasaan salah satu pemuda menyahut dengan aroma kopi menyeruak dari mulutnya, "Oi....Nirmala ada di sebelah sana!"

Lantas Nek Wiranti tergopoh-gopoh sambil sumringah menuju arah yang ditunjuk orang itu. Dan....Tadaa! Mereka terbahak-bahak. Kosong. Cuman gang buntu yang dilihat Nek Wiranti. Ia mendengus kesal.

Mendengar hal itu, Ustad Ranuma datang di sore hari, anak perempuan Pak Srimin tengah membereskan warungnya. Melihat hujan yang sebentar lagi datang, Ustad Ranuma buru-buru mencegat Wirnata masuk.

"Wirnata," ucapnya tersengal-sengal.

Wirnata menoleh, dilihatnya Ustad Ramunu yang langsung duduk di atas dipan rumahnya. Wirnata meletakkan minuman saset yang ia jinjing ke lantai, memandang peluh keringat Ustad Ramunu deras mendahului hujan.

 "Saya mau berbicara sebentar dengan kamu."

Wirnata mengangguk. Mengambil kursi yang ia tarik dari balik pintu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline