Lihat ke Halaman Asli

Ninoy N Karundeng

TERVERIFIKASI

Seorang penulis yang menulis untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

10 Mitos Puasa, dari Larangan Seks sampai Semua Dosa Diampuni

Diperbarui: 9 Juni 2016   14:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menikmati Pantai Pulau Peucang I Dok Ninoy N Karundeng

Puasa ternyata melahirkan mitos. Mitos puasa seperti larangan melakukan hubungan seks selama bulan Ramadhan, berenang membatalkan puasa, sampai mitos semua dosa diampuni. Itulah sebabnya, maka para koruptor di penjara dan koruptor yang tak tertangkap dan belum dicokok ada yang menjalankan puasa. Selama bulan puasa, mereka khusuk dan mendadak menjadi alim, nyantri, berpakaian kok terus-menerus, dan tampak taat menjalankan puasa di penjara dengan kekhusukan melebihi para ulama. Puasa dianggap menjadi alat pencuci dosa korupsi oleh para koruptor. Itu salah satu mitos yang merusak makna puasa, bahwa semua dosa diampuni setelah menjalankan ibadah puasa.

Mari kita telaah 10 mitos puasa yang mengusik nalar dari mulai larangan melakukan hubungan seks pada bulan suci Ramadan, tidak sahur menambah pahala, semua dosa diampuni, dan lainnya dengan hati gembira ria riang suka-cita menyambut bulan suci Ramadhan dengan banyak melakukan peribadatan yang mampu meningkatkan keimanan selamanya senantiasa.

Puasa sejatinya adalah ibadah yang paling tinggi dan mulia karena hanya satu-satunya ibadah yang diperuntukkan bagi Allah SWT. Tidak ada ibadah yang dikhususkan demikian. Namun, senyatanya puasa yang demikian penting itu telah menimbulkan mitos yang mengusik nalar dan bahkan merusak makna puasa. Salah satu mitos adalah larangan berhubungan seks selama bulan Ramadhan. Selain itu yang membuat koruptor senang adalah mitos semua dosa diampuni, termasuk dosa korupsi.

***

Pertama, mitos tidak boleh melakukan hubungan seks selama bulan puasa atau bulan suci Ramadhan. Senyatanya larangan melakukan hubungan seks hanya pada siang hari, setelah berbuka sampai dengan waktu imsyak hubungan seks diperbolehkan selama bulan suci Ramadhan.

Kedua, setelah puasa semua dosa diampuni. Tidak semua dosa diampuni seperti korupsi misalnya karena sifat dosa korupsi adalah harta yang dihasilkan dari korupsi tetap haram sifatnya. Dosa yang diampuni oleh Allah SWT adalah dosa yang terkait dengan dosa-dosa peribadatan, dosa dengan sesama manusia, namun bukan dosa karena korupsi. Kalau dosa korupsi diampuni gara-gara berpuasa enak banget para koruptor. Kenapa? Karena sifat korupsi yang meninggalkan jejak abadi harta benda hasil korupsi, dan dosa harta haram mengalir dalam darah para koruptor dan keluarganya, menjadi semacam maksiat jariyah.

Ketiga, mitos tidak sahur menambah pahala. Tidak ada satu pun ayat atau hadis yang menganjurkan atau menyebutkan tidak sahur dalam berpuasa menambah pahala. Justru sahur dianjurkan dan disarankan mendekati waktu Imsya menjelang masuk waktu sholat suhuh. Tujuannya adalah agar puasa tetap fit dan menjalankan pekerjaan sebagaimana biasa.

Keempat, yang terpenting berpuasa hanya hari pertama dan hari terakhir, pembuka dan penutup bulan puasa. Sebagian penyimpangan dilakukan dan dipercayai bahwa yang penting puasa dimulai pada hari pertama dan ditutup pada hari terakhir untuk kesempurnaan. Maka di tengah-tengah puasa mulai bolong-bolong dan tidak berpuasa, yang penting hari pertama puasa dan diakhiri dan disempurnakan pada hari terkahir bulan Ramadhan.

Kelima, meminta maaf sebelum mulai berpuasa kepada semua orang tua, kolega dan teman. Tidak ada aturan yang mengatur tentang hal ini. Bermaaf-maafan antar handai tolan, keluarga dan teman, orang tua dan sahabat, dilakukan setelah usai sholat Idul Fitri – pada akhir bulan Ramadhan.

Keenam, tidur berpahala. Nah ini sudah banyak dibahas dan dipertanyakan. Hal yang aneh tidur kok berpahala. Mitos ini membuat pelaku puasa bermalas-malasan dan tidak bekerja. Hal ini tidak sesuai dengan semangat bekerja meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.

Ketujuh, mati pada bulan puasa adalah kematian yang mulia. Bagi orang Muslim yang meninggal di bulan puasa, jika tidak melaksanakan ibadah puasa, sama saja tidak mulianya antara bulan puasa Ramadan dengan bulan atau hari biasa. Tidak ada kemuliaan sama sekali suatu kematian di bulan suci Ramadhan jika pelakunya, yang meninggal dunia, tidak menjalankan ibadah secara ikhlas dan karena Allah SWT, apalagi tidak puasa, sama sekali tidak mulia meninggal di bulan suci Ramadhan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline