Lihat ke Halaman Asli

Niken Ayu Woro Hapsari

Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Pasundan

Skinmalism: Alternatif Pendekatan Sederhana dalam Mengurangi Gerakan Impulsif dan Aksi Peduli Lingkungan

Diperbarui: 14 Agustus 2022   11:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi kemasan produk kecantikan. Sumber: freepik via Kompas.com

Beberapa tahun ke belakang, tren mengenai 10 step skincare routine ala Korea menjadi sangat populer di kalangan beauty enthusiast. Fenomena ini memantik kemunculan produk-produk baru dalam dunia kecantikan, khususnya bagi sebuah brand yang berbondong-bondong memenuhi permintaan pasar. 

Jika kita perhatikan hampir setiap pekan atau akhir bulan, pemain-pemain baru dalam dunia kecantikan terus bermunculan - merilis produk terbarunya. 

Pasalnya, menurut data statistik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk kosmetika menempati urutan dominan yang paling banyak masuk dalam registrasi produk izin edar di tahun ini, yang sebelumnya telah mengalami peningkatan sebanyak 85% pada tahun 2021.

Walaupun terlihat seperti sebuah kejayaan bagi industri kecantikan dan perekonomian, namun ada hal yang perlu kita khawatirkan dibalik ini semua. 

Pada umumnya, sebagian dari kita sudah familiar dengan istilah fast fashion, kini saatnya kita mengenal istilah lain yang berkaitan dengan hal serupa, yaitu fast beauty

Secara general, substansi keduanya berupa sebuah siklus produksi yang sangat cepat, guna memenuhi permintaan konsumen. Namun jika ditelisik lebih jauh, istilah "fast" di dalamnya tidak hanya mengenai kecepatan produksi oleh sebuah brand, namun juga berkaitan dengan kita sebagai konsumen - seberapa cepat juga kita tergiur untuk membeli dan mencoba produk baru yang bermunculan, secara impulsif.

Fenomena fast beauty dan perilaku impulsif yang terjadi, memiliki dampak yang bersinggungan dengan lingkungan dan kehidupan kita. Sebab faktanya dari 120 milyar packaging kosmetik yang diproduksi secara global, sebanyak 79% berakhir di TPA dan hanya 9% saja yang berhasil di recycle

Artinya, kemunculan fast beauty ditengah perilaku impulsif ini telah berkontribusi dalam menyumbang sampah dan kita sebagai konsumen memiliki tanggung jawab sebagai kemudi arah industri kecantikan dan sampah yang dihasilkan dari produk yang kita gunakan.

Credit by Niken Ayu Woro Hapsari

Selanjutnya, bagaimana seharusnya kita merespon semua ini dan apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline