Lihat ke Halaman Asli

ranny m

maroon lover

Dia Kembali

Diperbarui: 7 Maret 2016   19:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Aku bukan seperti aku yang dulu. Bukan lagi siswi SMP lugu yang tiap pulang sekolah berdiri barang satu jam menunggunya di halte itu hanya untuk sekedar melihatnya atau jika beruntung aku bisa menyapanya. Sosok itu. Sosok siswa SMP tetangga sekolahku. Kami beda sekolah, tapi halte tempat menunggu angkutan umum itu sama, jadi aku sering melihatnya. Dia favorit di sekolahnya. Setidaknya itu yang menjadikanku mewajarkan bahwa aku menyukainya. Tapi bagiku dia tidak terlalu tampan. Sekali lagi bagiku. Tapi menurut teman-temanku ya dia cakep. Dia juga nggak pinter-pinter amat. Tak bisa dipungkiri bahwa aku sekolah di SMP nomor 1 di kotaku, sementara SMP tetangga itu hanya urutan 5 atau 6. Lalu apa yang membuatku menyukainya? Dia ramah. Setidaknya dia rajin tersenyum atau kadang lebih dulu menyapa ketika melihatku. Meski menurut teman-temanku dia itu cool sekali, apalagi di hadapan siswi-siswi sekolahnya. Oh ya, meski beda sekolah, tapi aku memang mengenalnya. Kami dulu satu SD. Satu kelas juga waktu kelas 6.

Tapi itu sudah jauh berlalu. Bahkan 15 tahun yang lalu. Jelas saja aku sudah berubah. Aku sudah berjilbab sekarang. Aku ikut pengajian. Dan dia? Dia ada. Dia masih hidup. Dan belum menikah. Sama sepertiku. Bahkan sekarang kami sama-sama tinggal di kota yang sama. Menjadi perantauan di ibukota. Kami tidak pernah bertemu. Hanya sesekali bbm jika memang ada yang penting. Bahkan dia sudah punya pacar. Aku? Jelas aku jomblo. Toh aku mau seperti orang-orang yang bilang jomblo sampai sah. Sah jadi istri haha..

Aku menikmati hidupku di usia 28 ini. Tua? Mungkin. Sudah warning? Mungkin. Bahkan sebagian besar temanku sudah memiliki 1 atau 2 anak. Tapi aku menikmati hidupku. Bukan tidak berpikir untuk menikah, tapi rasanya sudah lelah. Sudah jemu dengan langkah berliku. 3 tahun lalu, ada seorang lelaki yang aku suka. Kami satu kantor. Tapi 2 tahun lalu dia menikah. Atau lelaki satu kampusku yang ketika kuliah aku sukai. Ah tahun lalu dia menikah. Dan minggu lalu? Lelaki yang aku sukai menikah. Dia teman satu organisasi waktu kuliah dulu. Jadi sekarang? Aku benar-benar lelah menyukai orang.

Ada. Ada 1 laki-laki di kantor baruku yang menarik perhatianku. Katanya dia rajin sholatnya. Demikian kata temannya. Tapi berhubung aku memang tidak ingin pacaran, jadi buat apa pedekate atau apalah-apalah. Rasanya ingin langsung saja kukirim whatsapp ke dia "Mas, mau nikah sama aku nggak?". Haha! Dan aku bahkan tak berani membayangkan bagaimana reaksinya. Bisa-bisa pesan itu di screenshot  dan disebarkan di aplikasi internet kantor. Paling tidak itu yang bisa kubayangkan. Artinya? Yah memalukan!

Tapi lelaki itu kembali.

"Sas, tahun ini katanya ada bukaan PNS."

Sederet huruf itu rapi kubaca di bbm hapeku.

"Lo ngasih tau apa nanya, Ko?"

"Ngasih tau. Lo mau ikutan nggak?"

"Lah gue kan udah PNS."

"Oh iya ya. Gue bosen kerja sama asing gini, nggak jelas masa depannya."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline