Lihat ke Halaman Asli

Muhajirin

Asah pikir dengan menulis

Dilema Kelapa Muda

Diperbarui: 25 April 2021   14:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kisah Untuk Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Sabtu pagi, (17 April 2021), saya dan keluarga ke Pasar Baru Waikabubak untuk membeli persediaan berbuka puasa hari ini. Pasar tersebut berlokasi cukup jauh dari pusat kota sehingga perlu waktu khusus untuk ke sana. Pagi hari adalah pilihan yang tepat untuk menghindari terik matahari atau mengantisipasi terjebak hujan di tengah perjalanan. Hal itu penting mengingat kedua anak kami juga ikut serta. Selain itu, agar memperoleh sayuran, buah dan ikan yang masih segar.

Pasar baru merupakan satu-stunya pasar yang beroperasi di Sumba Barat Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak sekitar seminggu sebelum bulan puasa lalu Pemerintah Daerah (Pemda) kembali mempertegas agar para penjual mengosongkan pasar lama. Sebab rencananya, akan dialihfungsikan untuk membangun pusat perbelanjaan modern.

Sebenarnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sumba Barat bersama anggota Polri dan TNI sering mengusir para penjual tetapi tetap diulangi lagi bila rajia tidak dilakukan. Kabarnya, untuk menghormati umat muslim beribadah puasa, sehingga Pemda menindak tegas penjual yang tidak patuh.

Kembali ke Judul

Sekitar 10 menit sampai lah kami di pasar.  Sesuai rencana, prioritas utama adalah kelapa muda. “ Lima ribu, lima ribu, lima ribu..,” Demikian celoteh Ina-Ina penjual kelapa. Maksudnya, lima ribu rupiah per kelapa muda.

“Sepuluh ribu tiga Ina?” tawar seorang pembeli. “ Tidak mama. Saya juga belinya segitu.” Tegas Ina.

Tawar menawar itu ternyata sedikit membingungkan istri saya, sebab biasanya di pasar lama harga kelapa memang lima ribu per buah.

“Kenapa di sini masih ditawar?” Bisiknya ke saya! “Mungkin pembeli tadi mengira si Ina merupakan penjual pertama, ternyata sudah tangan kedua.” Jelasku menebak arah pertanyaannya!

Bisa dimaklumi, istri saya masih belum paham, karena baru beberapa bulan pindah tugas dari salah satu instansi fertikal di Kabupaten Badung Bali ke sini. Mutasi mengikuti suami dan promosi jabatan. Alhamdulilah, bisa bersatu setelah hamper sepuluh tahun pisah dari keluarga kecilku!

“Oh, jadi di sini ada penjual pertama, sedangkan di pasar lama hanya ada penjual kedua?” Selidiknya penasaran! “Sebenarnya, di pasar lama dan di sini sama saja, ada penjual pertama. Hanya karena kita sering kesiangan sehingga dapatnya penjual kedua.” Tuturku pajang lebar!

Hari ini, bisa dibilang relative ramai dibandingkan harai-hari sebelumnya sebab sebentar saja kelapa muda yang cukup banyak habis dalam waktu singkat. Kami yang sibuk diskusi akhirnya kedapatan sisa. Hehe

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline