Lihat ke Halaman Asli

KANG NASIR

TERVERIFIKASI

petualang

Kronik Perjuangan Pemberontakan Cilegon 1888 (Bagian 5)

Diperbarui: 8 Juli 2021   21:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Rumah Ki Wasid di Beji yang porak poranda di hancurkan Kolonial Foto KITVL.

Pengantar :  

Dalam rangka menghormati dan mengenang para pejuang rakyat Cilegon dalam melawan Penjajah Belanda, dimotori oleh para Kyai (Ulama) yang terjadi di Cilegon pada tanggal 9 Juli 1888, saya sajikan tulisan bersambung  yang disarikan dari buku karya Prof. Sartono Kartodirdjo "Pemberontakan Petani Banten 1888". 

Beji saat itu di kepung, penyerbuan akan dilakukan menjelang matahari terbit. Namun ketika penyerbuan dilakukan di pagi hari itu, pihak kolonial kecele lantaran pada saat rumah rumah digeledah, didalamnya hanya terdapat lampu yang masih menyala, sementara penghuninya sudah tidak ada.

Entah disengaja atau tidak, pada saat penggeledahan di satu rumah, ada lampu yang jatuh dan mengakibatkan rumah terbakar hingga merembet ke seluruh rumah di kampung itu, alhasil  kampung Beji luluh lantak karena rumah rumah dilalap api, kecuali rumah H. Abdul Karim yang tidak terbakar meskipun berada ditengah tengah rumah yang terbakar.

Pengejaran terus di lakukan, ada info Ki Wasid ada di Kampung Ciora, tentara bermaksud mengejar kesana, namun dalam perjalanan lebih mendahulukan pencarian pelaku pemberontakan di kampung Kedung dan Terate Udik.

Saat tiba di Kedung --sama halnya dengan di Beji-- , hanya rumah kosong yang didapat. Namun saat itu tentara melihat dua orang berlari, satu ditangkap satunya lagi berhasil meloloskan diri.

Tentara kemudian mengancam, jika yang melarikan diri tidak mau menyerahkan diri atau tidak ada yang memberi tahu dimana tempat bersembunyi para pemberontak dalam waktu seper empat jam, kampung akan di bakar. Waktu yang diberikan sudah lewat, tapi tidak ada seorangpun yang mau memberitahu, ahirnya rumah rumah di kampung itupun di bakar habis.

Kampung Kedung yang dibakar Kolonial. KITVL

Kini giliran kampung Terate Udik, kampung ini merupakan tempat tinggal pejuang yang jadi pimpinan pemberontakan yakni H. Mahmud. Tak ayal kampung ini disasar dan digeledah untuk mencari keberadaan H. Mahmud dan pejuang lainnya.  H. Mahmud ditangkap dirumahnya.

Pencarian terhadap pejuang lainnya terus dilakukan, namun pihak kolonial  tidak mendapatkan info apapun lantaran tak ada orang yang mau meberitahu alias tutup mulut.

Akibatnya rumah rumah di kampung Terate Udik dibakar termasuk rumah H. Mahmud. Diketahui bahwa perintah untuk membakar rumah rumah penduduk ini datang dari kontrolir De Cauvigny de Blot.

Operasi militer pencarian  dengan maksud menangkap para pejuang pemberontakan terus ditingkatkan pihak kolonial. Hampir semua desa yang dianggap banyak pengikut/anggota atau pimpinan pasukan Ki Wasid  diobrak abrik seperti Tunggak, Cibeber, Bojonegara, Ciore, Citangkil, Seneja. Namun upaya itu  sia sia karena para pelaku atau pimpinan pejuang pemberontakan tidak ada di kampung masing masing.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline