Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Julijanto

Dosen Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta

Komitmen Sopir Angkot

Diperbarui: 8 November 2022   14:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Alhamdulillah terasa nikmat shalat jamaah Dhuhur di rumah bersama keluarga, terasa mengalir cinta dan kasih sayang bersama, suasana puasa Ramadhan 1441 semakin indah dengan lantunan ayat-ayat Alquran yang dibaca anak dan istri, mereka saling berlomba memperbagus bacaannya, memperbanyak bacaannya, dan ayahnya memperdalam kandungan ayat-ayat demi ayat, menelaahnya, menyampaikan dalam ceramah dan tulisan-tulisan yang dipublikasikan di dunia maya melalui media sosial, maupun media internet, sehingga terasa manfaatnya bagi yang lain...

Siang ini saya membuka catatan harian tahun 2009 tanggal 24 juni.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang anugerahkan aneka nikmat yang berlimpah-limpah kepada kita, melalui esay ini saya akan memaparkan hasil riset kecilku terhadap fenomena yang aku jumpai beberapa tahun yang lalu, maupun saat ini terus saya lakukan.

Pada hari Rabu tanggal 14 Juni 2009 siang itu aku menunaikan shalat Dhuhur berjamaah di masjid dalam suatu perjalanan, dan kebetulan saya tertinggal rakaat menjadi makmum masbuk. Karena saya terlambat dua rakaat dari imam. Shalat sudah berjalan dua rakaat.

Orang yang menjadi imam saya tidak menyangka bahwa beliau adalah seorang sopir angkot yang shalat setiap waktu shalat tiba, dia pasti selalu sehinggah di mana telah mengantar penumpang sampai tujuan. Saya juga tidak mengenal siapa yang menjadi imam shalat tadi. Setelah mengetahui sang imam setelah dzikir dan doa kelar, sang imam kembali ke mobil tumpangannya, ternyata dia duduk di depan kemundi sebagai sopir angkot.

Saya merasa bahagia betapa khusuk dan tawadhu'nya akhlaknya, termasuk dalam mengatur waktu bisa tepat di waktu shalat istirahat yang dilakukan, dan kembali menjalankan profesinya kala waktu shalat sudah selesai ditunaikan. Kembali melalang buana menjemput rezeki yang Allah tebarkan di senatero negeri.

Saya kembali berdoa memohon untuknya Allah Swt melapangkan rezekinya, istiqoman dalam beribadah sekalipun dalam kondisi ekonomi sedang sulit.

Sementara lagi, ada seorang sopir angkot ini tidak shalat tetapi dia selalu antarkan isterinya ke masjid terdekat dengan kendaraannya, setelah isterinya turun dari angkot sempat melihat sebentar, untuk memastikan apakah di masjid itu ada alat shalat seperti mekena dan sajadah buat shalat. Maka sang isteri setelah memastikan ada mekenan dan sajadah untuk shalat, meminta suaminya melanjutkan narik penumpang dan dia istrinya tetap tinggal di masjid menunggu sambil iktikaf hingga kelar mengantar penumpang, sang suami kembali ke masjid untuk menjemput isterinya.

Saya memohon kepada Allah Swt semoga kelapangan dan kemudah rezekinya dimudahkan Allah Swt, rezekinya lapangan dan lancar ridhoNya.

Suatu waktu saya melakukan perjalanan dari Semarang kembali ke Solo, naik kendaraan umum, bus antar kecamatan. Bila naik kendaraan umum saya lebih suka duduk di belakang sopir, atau jok depan samping sopir, karena saya bisa melihat pemandangan dan sambil mengembangkan imajinasi. Saat lalu lintas tidak terlalu padat, sang sopir membuka pembicaraan, dengan bertanya "turun mana mas?". Sopir juga bertemu langganannya yang pada jam tertentu ada penumpang yang setiap untuk bersama dalam kendaraannya.

Sopir bercerita apa yang dialami dalam perjalanan kerjanya hari itu. "Aku sudah dua putaran". Dan ketika sampai di terminal pas pukul 12.00 WIB, saat waktu shalat Dhuhur tiba, maka sopir segera memarkir kendaraannya bergegas menunaikan Shalat Dhuhur terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Dia bercerita bahwa apa yang dilakukannya semata mengharap ridha Allah, termasuk masalah rezeki seperti ini. Alhamdulillah hasil perbuatan yang saya lakukan, membuat anak-anak saya sukses dan prestasi belajarnya luar biasa, sehingga mendapatkan beasiswa dari sekolahnya, dan itu semakin memacu saya bekerja dengan baik agar mampu memenuhi segala kebtubuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak kami.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline