Lihat ke Halaman Asli

Raden Saleh: Seorang Patriotis atau Antek Belandakah?

Diperbarui: 22 Mei 2023   09:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

@terARTe.id

Nama dan Nasab yang Harum

Raden Saleh Syarif Bustaman, begitulah orang-orang menyebut nama tokoh besar yang pernah menghiasi sejarah bangsa Indonesia ini. Namanya begitu harum didengar dengan segala keagungan kualitas pribadi yang dimilikinya. Nama besarnya dikenal sebagai seorang pelukis handal yang populer di daratan Eropa sekaligus sebagai pelopor seni lukis modern di Indonesia. Ia juga seorang arsitek sekaligus perancang pertamanan, kolektor dokumen etnografi sekaligus ahli arkeologi dan paleontologi, serta pendiri berbagai taman margasatwa.

Selain memiliki nama yang harumnya begitu semerbak, Nasab Raden Saleh tak kalah harum pula. Terlahir dari keluarga bangsawan sekaligus keturunan 'Alawi bermarga bin Yahya, yang artinya bahwa darah manusia teragung, Nabi Muhammad SAW juga mengalir dalam dirinya.

Raden Saleh dilahirkan di Terboyo, sebuah daerah kecil di pesisir Semarang, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Sayyid Husein bin Alwi bin Yahya, sedangkan ibunya bernama Mas Ajeng Zarip Husein. Kedua orang tua Raden Saleh tersebut masih memiliki garis keturunan dari Kyai Ngabehi Kertoboso Bustam (1681-1759 M), seorang asisten Residen Terboyo sekaligus pendiri keluarga besar Bustaman yang kelak melahirkan para residen, patih, dan anggota utama kelas priayi bangsawan.

Beberapa anggota keluarga Bustaman ada yang memegang jabatan sebagai penghulu, yakni pejabat Islam tertinggi di suatu wilayah. Puncak karir keluarga Bustaman diraih ketika jabatan Bupati Semarang dipegang oleh Adipati Suroadimenggolo V alias Kanjeng Terboyo (1765-1827 M) yang merupakan paman sekaligus ayah angkat dari Raden Saleh. Di kediaman pamannya inilah Raden Saleh menghabiskan masa kecilnya dikarenakan sang ayah telah meninggal di usia muda, dan di sana pula ia nantinya berkenalan dengan pejabat Hindia-Belanda yang merupakan teman dekat dari pamannya, yakni Baron van der Capellen dan Profesor Carl Reindwartdt. 

Kedua pejabat Hindia-Belanda ini terkesima dengan bakat menggambar yang dimiliki Raden Saleh, sehingga kemudian menganjurkan Kanjeng Bupati Terboyo untuk mengirimkan kemenakannya tersebut ke sebuah sekolah di Cianjur, di mana di tempat tersebut terdapat juru gambar resmi pemerintahan Hindia-Belanda, Adrianus Johannes Bik. Tak lama setelah itu ia kemudian tinggal bersama seorang pelukis berdarah Belgia, Antoine Auguste Jean Joseph Payen, selama beberapa tahun di Buitenzorg (Bogor). Dari nama-nama inilah yang kelak akan menjadi jembatan utama karir profesional Raden Saleh di beberapa negara di Eropa, seperti Belanda, Jerman, Italia, Perancis dan Inggris.

Berbekal dana beasiswa dari pemerintahan Belanda, Raden Saleh menghabiskan kurang lebih 23 tahun lamanya untuk mempertajam bakatnya dengan belajar kepada para maestro lukis seperti Cornelis Cruseman, Horace Vernet, Andries Schelfhout, serta tokoh-tokoh besar lainnya.

Berkat keseriusannya dalam memperdalam ilmu seni di Eropa inilah kemudian nama Raden Saleh dikenal luas melalui karya-karyanya yang fenomenal dengan gaya romantisisme sebagai ciri khasnya. Tak heran jika kemudian keharuman nama Raden Saleh juga tercium oleh tokoh-tokoh besar kerajaan, sehingga ia dapat berteman akrab antara lain dengan Pangeran Adipati Ernst II dari Coburg, hingga akhirnya nanti diangkat sebagai juru gambar resmi Kerajaan Belanda. Sekembalinya ke Jawa pun kelak ia juga memiliki hubungan baik dengan pejabat tinggi pemerintahan Hindia-Belanda, meskipun tidak sedikit pula yang membencinya.

Di tengah ingar bingar kehidupan Eropa yang tentunya jauh berbeda dari adat kebiasaan dan agama kepercayaannya, Raden Saleh senantiasa menetapkan diri akan keislamannya meskipun sempat beberapa kali dibujuk untuk berpindah agama. Ia akan tetap bergegas menunaikan kewajiban sholatnya setiap terdengar adzan, bahkan ia juga tak segan meminta rekannya untuk menyepak kakinya di bawah meja makan jika ada makanan yang mengandung daging babi yang dihidangkan dalam jamuan makannya.

Sebagai seorang arkeolog dan ahli paleontologi yang sering berurusan dengan fosil-fosil peninggalan masa lalu, Raden Saleh pernah berdiskusi dengan rekan seprofesinya yang mendukung penuh Teori Darwin mengenai teori evolusi. Raden Saleh pun memilih untuk tidak memberikan pandangannya karena hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam agamanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline