Lihat ke Halaman Asli

Melynda Dwi Puspita

linktr.ee/melyndadwipuspita

Selamatkan Bumi dari Kecanduan Teknologi

Diperbarui: 23 Oktober 2021   13:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto oleh Daniel Frank dari Pexels (www.pexels.com)

Bapak selalu asyik menengok pertandingan sepak bola, atau kadang-kadang badminton dari balik layar TV. Kakak menggerutu di depan laptop ketika bosnya meminta 'lembur' dan mengirimkan laporan keuangan secepatnya. Di sisi lain, ada ibu yang tengah fokus membaca pesan tips tradisional 'ampuh' mengobati gigitan ular, hasil forward teman SMA-nya di grup WhatsApp. Si kecil, keponakan satu-satunya hanya bisa mengobrol dengan boneka beruang di depan kipas angin listrik yang berputar. Sementara saya terobsesi untuk menatap layar smartphone sembari mendendangkan lagu-lagu One Direction.

Apa pesan yang ingin disampaikan dari rutinitas keluarga saya tatkala sore menjelang malam? Tidak ada, karena tidak terlihat istimewa, hanya nampak seperti cerita yang biasa saja. Namun, saya hanya menyoroti kebiasaan keluarga saya yang mungkin juga dialami keluarga lainnya. Sesuai judulnya yakni ketergantungan terhadap teknologi.

Sebentar, pasti banyak orang yang salah paham atau menolak argumen saya terkait teknologi. Hingga timbul narasi-narasi seperti, "memangnya kenapa kalau kecanduan teknologi? bukankah teknologi dapat membantu meringankan kehidupan manusia? Iya memang benar, saya akui. Terlebih lagi selama pandemi ini yang telah banyak mengubah aktivitas fisik menjadi berbasis digital.

Apabila banyak orang yang menjunjung teknologi dan dunia maya. Justru saya berbeda pemikiran (out of the box), tetapi bukan berarti saya ingin bertingkah anti mainstream. Saya hanya memegang teguh pepatah yang selama ini berkembang di masyarakat. 'Segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik, kecuali duit'. Hal ini juga berlaku bagi teknologi yang tidak hanya merenggut intensitas interaksi langsung antar manusia, tetapi juga keselamatan bumi tercinta.

Bagaimana Teknologi Menghancurkan Bumi Secara Perlahan?

Ilustrasi Teknologi Menghancurkan Bumi (Dokumentasi Pribadi)

Jika ingin mengikuti seminar, tidak perlu lagi datang ke gedung, cukup mendaftar webinar. Mempunyai jadwal kelas di perguruan tinggi? Hanya perlu duduk manis di dalam rumah bersama laptop. Apabila dahulu kerja jarak jauh sangatlah mustahil, justru kali ini Pemerintah menerapkan aturan #WorkFromHome. Ingin sejenak melepas penat dengan jalan-jalan ke tempat wisata? Bisa berpartisipasi pada virtual tour, melalang buana hingga penjuru negeri.

Tidak disangka, wabah yang datang tanpa diundang dan penuh kesengsaraan juga membawa hikmah. Selama pandemi ini, teknologi dipaksa untuk 'melibatkan diri' ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Semua semakin mudah karena telah berubah menjadi virtual. Hingga banyak orang yang cukup perhatian terhadap isu lingkungan nampaknya semakin bergembira. Sebab banyak di antara kita yang beranggapan bahwa tranformasi aktivitas fisik menjadi digital sangatlah berdampak positif terhadap lingkungan. Benarkah seperti itu?

Berdasarkan hasil studi dalam Journal of Cleaner Production oleh Universitas McMaster, justru menyimpulkan fakta yang berbeda. Para peneliti mencoba menghitung jejak karbon dunia teknologi (mulai dari penyedia data atau server, laptop, personal computer, monitor, dan smartphone) pada tahun 2010 sampai 2020. Mereka menemukan bahwa jejak karbon dunia teknologi meningkat 3,5%, yaitu 125 megaton CO2 per tahun pada tahun 2020.

Sebuah smartphone yang selama ini diagung-agungkan manusia, nyatanya telah banyak menyumbang emisi karbon. Dari proses produksinya saja, sudah melibatkan berbagai jenis pertambangan seperti emas dan tembaga. Para peneliti Universitas McMaster menyebutkan bahwa jejak karbon pembuatan sebuah ponsel setara dengan 55 kg karbon dioksida.

Pemakaian smartphone rata-rata hanya selama dua tahun, karena adanya upgrade model terbaru yang digencarkan produsen. Setelah rusak, kebanyakan kita memperlakukan smartphone 'lem biru' (lempar beli baru). Hingga produksi limbah elektronik menyentuh angka 40-50 juta ton setiap tahunnya dan tidak terdaur ulang sebagaimana mestinya..

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline