Lihat ke Halaman Asli

MEX MALAOF

Terus Bertumbuh dan Berbuah Bagi Banyak Orang

Jangan "Membunuh" Anak untuk Berpikir

Diperbarui: 6 November 2020   00:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Anak-anak yang lahir, hidup, dan berkembang di tengah-tengah keluarga, sekolah, dan masyarakat, membutuhkan banyak hal baik untuk mengisi dan membekali diri mereka. Ada persoalan, kesulitan, rintangan, dan tantangan hidup yang sudah menunggu mereka dikemudian hari untuk dikalahkan. Akan tetapi, ibarat tabung panah, mereka itu masih kosong. 

Mereka perlu mengisi diri dengan panah hingga penuh agar di kemudian hari, mereka mampu menghalau dan mengalahkan berbagai musuh kehidupan yang hadir dan tampak dalam berbagai wujud yang menantang, merintang, dan menyulitkan di hadapan mereka.

Oleh karena itu, ketiga elemen penting (keluarga, sekolah, dan masyarakat), perlu untuk mencari dan menemukan cara atau jalan yang tepat untuk mengisi dan membekali anak-anak.  

Segala sesuatu yang terlontar dari mulut atau yang dilakukan oleh kaki dan tangan pribadi-pribadi yang mereka pandang sebagi panutan dan idola, entah itu baik atau buruk, entah benar atau salah sekalipun, akan sangat mempengaruhi cara berpikir dan cara pengambilan keputusan mereka kelak.

Berikut, penulis menawarkan dua hal yang dapat dilakukan bagi seorang anak untuk merangsang dan mengembangkan cara berpikir dan cara pengambilan keputusannya kelak antara lain:

1. Jangan mudah memberi bantuan atau jawaban

Tak dapat dipungkiri bahwa seorang anak pastilah akan mengalami kesulitan pada saat belajar, saat bermain, saat bergaul dengan orang-orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Dalam berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang ditemui, berikanlah waktu atau kesempatan bagi mereka untuk berpikir. 

Kalau seorang anak sementara asyik bermain mobil-mobilan lalu tiba-tiba menangis karena salah satu ban mobilnya terlepas, maka kita tidak perlu terburu-buru untuk memasangnya kembali. 

Berikan petunjuk secara perlahan dan biarkanlah dia yang memasangnya. Maka, kalau hal yang sama terjadi lagi dikemudian hari, ia mungkin saja tidak akan menangis seperti sebelumnya tetapi, ia akan memutar otak dan memasang ban mobil itu sendiri. 

Lakukan hal yang sama ketika anak mengalami kesulitan dalam belajar. Janganlah terlalu mudah untuk menyediakan jawaban di atas kertasnya. 

Kalau seorang anak bertanya, 2 +2 sama dengan berapa pak atau bu? Jangan dengan cepat katakan 4. Tapi ambilah lidi, batu, kelereng, atau benda apapun dan buatlah agar ia menemukan jawabannya sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline