Lihat ke Halaman Asli

Mas Teddy

Be Who You Are

Secuil Catatan tentang Film "Max Havelaar" (1976)

Diperbarui: 9 Desember 2017   15:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Capture dari film "Max Havelaar"

Ibarat pepatah "bagaikan mendapat matoa runtuh" (maaf, saya tidak pakai pepatah "ibarat mendapat durian runtuh" karena saya tidak doyan durian, saya lebih suka matoa), itulah perasaan saya ketika tanpa sengaja menemukan film "Max Havelaar" di Youtube.

Film "Max Havelaar" (1976) masuk dalam daftar film langka versi saya, yang harus jadi koleksi. Film "Max Havelaar" adalah film hasil produksi bersama PT Mondial Motion Pictures (Jakarta) dan Fons Rademakers Productie B.V. (Amsterdam). Film arahan sutradara Fons Rademakers ini sempat dilarang penayangannya alias dicekal pada zaman Orde Baru. Ketika akhirnya pelarangan tersebut dicabut sekitar tahun 1987/1988, saya langsung menonton film ini di sebuah bioskop di Jalan Tanjungsari, Surabaya. Begitu menonton filmnya, saya langsung takjub. Bukan oleh jalan cerita atau akting pemainnya, tapi oleh kualitas gambarnya. Ketajaman, kejernihan dan kebersihan gambarnya sangat jauh berbeda dengan film-film Indonesia saat itu, yang hampir semuanya burek.

Cerita film "Max Havelaar" diambil dari roman karya Multatuli dengan judul yang sama. Multatuli sendiri adalah nama samaran dari seorang penulis sekaligus pegawai pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda (sebagai asisten residen) yang sikapnya agak berseberangan dengan pemerintah kolonial Belanda, Eduard Douwes Dekker. Bisa jadi tokoh Max Havelaar adalah alter-ego dari Eduard Douwes Dekker sendiri.

Film "Max Havelaar" mengambil setting cerita di Kabupaten Lebak, Banten, tahun 1850-1860. Adipati Lebak beserta aparatnya bertindak semena-mena kepada rakyatnya, melebihi penjajah Belanda. Rakyat dipaksa menyerahkan hasil sawah dan kerbaunya untuk disembelih sebagai jamuan makan acara Sang Adipati. Rakyat dipaksa membersihkan alun-alun tanpa dibayar, dll. Ketika Asisten Residen di Lebak, C.E. Pierre Slotering, mengingatkan Sang Adipati supaya jangan semena-mena kepada rakyatnya, malah dibunuh dengan cara diracun saat jamuan makan. Dalam situasi seperti itulah Max Havelaar dipromosikan dan dimutasi dari Manado ke Lebak, sebagai Asisten Residen.

Menghadapi situasi demikian, Max Havelaar tidak tinggal diam. Dia berusaha mengubah pola pikir dan meyakinkan rakyat Lebak bahwa mereka tidak seharusnya takut kepada Sang Adipati. Niat baik Max Havelaar tentu mendapat tentangan dari Adipati dan aparat-aparatnya, termasuk oleh stafnya sendiri. Salah satu bentuk intimidasi terhadap Max Havelaar dan keluarganya adalah ancaman pembunuhan terhadap anaknya, Maxie, dengan ditemukannya puluhan ular di kebun mereka.

Situasi mulai memanas ketika Saidjah dan kekasihnya, Adinda, melaporkan kepada Max Havelaar mengenai "pembelian paksa" kerbaunya oleh Pak Demang, dengan membawa potongan kepala kerbaunya. Ayah Saidjah yang pergi menagih uang kerbaunya kepada Pak Demang justru pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Saidjah pun jadi buronan Pak Demang karena membunuh seorang aparat Demang. Saidjah lari ke Lampung dan bergabung dengan rakyat Lampung yang sedang melakukan pemberontakan terhadap penjajah Belanda. Sementara Adinda pergi berlindung di rumah dinas Max Havelaar.

Salah satu adegan (gambar diambil dari film 'Max Havelaar')

Max Havelaar bermaksud menuntut Adipati atas perlakuan semena-mena kepada rakyatnya dan sebagai tersangka atas tuduhan pembunuhan Asisten Residen sebelumnya, C.E. Pierre Slotering. Namun, apa yang diperoleh sungguh sangat diluar dugaannya. Adipati Lebak dinyatakan tidak bersalah. Sebaliknya, Max Havelaar justru mendapat surat pindah tugas ke Ngawi, Jawa Timur. Max Havelaar menolak surat penugasan tersebut dan lebih memilih diberhentikan sebagai Asisten Residen.

Max Havelaar pun membawa Adinda ke Bogor untuk bersaksi di depan Gubernur Jenderal tentang penindasan rakyat Lebak oleh Adipatinya sendiri. Namun, ketika Max Havelaar berhenti untuk menemui rakyat Lebak yang mengantar kepergiannya ke Bogor, Adinda justru memisahkan diri dan menyusul sang kekasih pergi ke Lampung. Nasib tragis dialami Saidjah dan Adinda. Keduanya tewas terbunuh oleh pasukan Belanda yang sedang menumpas para pemberontak di Lampung.

Ditinjau dari segi teknis perfilman, tidak ada yang istimewa dari film "Max Havelaar" ini. Akting Maruli Sitompul sebagai Demang yang kejam, meski tidak sebagus biasanya, masih tetap yang paling menonjol dalam film ini (menurut saya). Selain Maruli Sitompul, akting Minih bin Misan yang berperan sebagai ayah Saidjah juga cukup meyakinkan meski tidak banyak mengucapkan dialog, tetapi ekespresinya sebagai orang yang tertindas patut diacungi jempol.

Kontroversi

Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1860, "Max Havelaar" mengundang banyak pertanyaan. Apakah buku "Max Havelaar" adalah biografi dari Eduard Douwes Dekker? Apakah Raden Adipati Kartanegara, bupati Lebak saat itu betul-betul kejam seperti digambarkan Multatuli dalam bukunya, "Max Havelaar"? Apakah Douwes Dekker sewaktu menjabat sebagai asisten residen Lebak waktu itu, betul-betul membela rakyat Lebak? Dan bermacam-macam pertanyaan lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline