Lihat ke Halaman Asli

Mas Gagah

TERVERIFIKASI

(Lelaki Penunggu Subuh)

Nomor Urut Capres dan Derita Kemiskinan Rakyat Indonesia yang Tak Pernah Selesai

Diperbarui: 22 September 2018   22:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://www.eramuslim.com

Nomor urut capres telah ditentukan, hasilnya Jokowi memperoleh nomor 1 dan Prabowo memperoleh nomor 2. Kemudian jika ditanyakan lebih lanjut, rakyat Indonesia mendapatkan apa? Bukankah, ongkos demokrasi kita saat ini sangat mahal. Maka memungkinkan terjadinya deal-deal politik antara media, partai politik, dan para pemburu kekuasaan.

Rakyat Indonesia mendapatkan keuntungan apa setelah nomor urut didapatkan oleh pasangan capres?

Di tengah ramai pesta demokrasi kita, kondisi sosial rakyat seakan dilupakanbegitu saja. Semua pejabat negara sibuk mengurus diri masing-masing untuk memenangkan perebutan kekuasaan. Lagi-lagi rakyat Indonesia harus tetap diam di saat semua harga melambung tinggi. Suara-suara kritis dari penyanyi lawas semisal Iwan Fals, juga sudah tidak lagi terdengar gemanya. 

"Di era Presiden Soeharto, nama Iwan Fals begitu berkumandang lantaran menelurkan karya-karya yang kritis melalui lirik lagu. Sebut saja "Sarjana Muda", "Oemar Bakri", "Galang Rambu Anarki" dan beberapa lainya. Terlebih saat ia bergabung bersama Kantata Takwa, suara Iwan Fals semakin menggelora mengkritisi berbagai situasi politik, ekonomi dan sosial, dengan gaya dan liriknya yang khas. Seperti apa yang disuarakan di lagu "Bento", dan lain-lain" (https://merahputih.com)

Tetapi, semua orang seakan terdiam melihat kemiskinan dan ketidakadilan yang menghantam sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia. 

Belum selesai kemarin, polemik tentang kran impor beras dari Thailand, Vietnam, dan mungkin dari Tiongkok. Pejabat kita malahan saling menyalahkan sana sini. Beradu mulut sak-enake udele dewe di media tanpa ada urat malunya. Begitulah realitas kondisi kebangsaan kita saat ini. Hampir semuanya terpecah belah berantakan.

Kita belum juga mampu menjadi bangsa yang mandiri dan bermartabat setelah lebih dari 70 tahun merdeka. Sekali lagi saya tuliskan, di tengah-tengah gempita pesta demokrasi, rakyat Indonesia tetap sulit hidupnya. Bahkan untuk sekedar mengganjal perut saja kesulitan.

Di antara gempita pengumuman penerimaan CPNS, faktanya ada ratusan ribu guru honorer yang tidak mendapatkan hak-haknya. Ribuan guru honorer itu digaji dengan nilai ratusan ribu sebulan. Belum lagi kesejahteraan mereka yang memang diabaikan oleh negara.

Ada salah yang salah dengan pengelolaan negara ini sepertinya. Negara belum juga bisa menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengutip pendapat Rizal Ramli "Negara kita ini seperti kehilangan orang tua. Anak-anak berantem tetapi orang tuanya tidak tau pergi ke mana. Mungkin orang tuanya sibuk kampanye..."

Maka, kemenangan pesta demokrasi ini seharusnya bukan milik Prabowo atau Jokowi. Bukan kemenangan nomor 1 atau nomor 2, tetapi harus menjadi kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Makna inilah yang kadang terabaikan. Pesta demokrasi yang mahal bukan untuk memenangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tetapi pesta demokrasi ini hanya untuk kemenangan pasangan calon presiden dan partai pendukung.

Maka, bagi saya sendiri nomor 1 atau nomor 2 tidak terlalu saya pedulikan. Nomor itu tidak akan pernah akan ada makan substansial jika rakyat Indonesia masih belum lepas dari penjajahan. Siapapun yang bisa memenangkan rakyat Indonesia itulah yang harus dipilih oleh rakyat Indoensia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline