Lihat ke Halaman Asli

Mariani Sutanto

Psikolog yang berkecimpung dalam parenting, perkembangan anak hingga remaja, dan eksplorasi diri.

(Review Film 21 Bridges) Why Fit When You Were Born to Stand Out

Diperbarui: 5 Desember 2019   10:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Permulaan film ini mengingatkanku akan film Mississipi Burning sekian puluh tahun lalu. Namun ternyata jalan ceritanya sangat berbeda dan membuat mata lelahku terbelalak lebar menyaksikannya.

Film ini berkisah tentang pedih hati seorang bocah ABG di misa pengantaran sebelum pemakaman ayahnya, seorang polisi yang tewas mengenaskan dalam tugas.  

Ia membiarkan airmatanya mengalir, pun saat membawakan foto ayahnya. Raut wajahnya memperlihatkan bahwa bocah ini geram , sedih dan samar-samar ada tekad kuat untuk membuktikan sesuatu kelak. 

Film ini berkisah tentang patron yang tertanam dalam keluarga, dan diwujudkan dalam pilihan bocah tadi. 19 tahun kemudian, ia pun memilih profesi yang sama dengan ayahnya, bahkan menjadi polisi yang disegani karena tanpa takut menghadapi kebrutalan para penjahat, sekali pun untuk itu ia terpaksa melontarkan peluru panas yang mematikan. Tak mudah tentunya bagi seseorang menjalani profesi yang sama dengan orangtuanya, namun dibayang-bayangi oleh kepedihan dan tantangan yang ada. 

Selalu ada kemungkinan ia mengalami jalan hidup yang sama dengan ayahnya, gugur dalam tugas. Namun, bocah ini membangun sikap yang berani dan positif saat memasuki pendidikan dan menjalani profesinya. Ia tahu dan paham menjalankan peraturan. Ia pun tidak takut mengambil tindakan sepanjang hal itu masih dalam koridor hal yang diizinkan.

Film ini berkisah tentang kejelian membaca pertanda, tanggap ing sasmita. Naluri polisi yang tertanam kuat membuatnya selalu teliti mengatur perencanaan. 

Ia tahu bahwa aksi cepat akan terlaksana  jika ada kerja sama yang baik.  Oleh karena itu, film ini selain kental menunjukkan ketaatan pada perintah tetapi juga menonjolkan pentingnya kerja sama, antara polisi, FBI maupun pejabat kota. Ini yang memungkinkan 21 jembatan di Manhattan dan sekitarnya ditutup, walau hanya lima jam sampai rembang pagi mencuat di cakrawala.

Film ini berkisah tentang kebersamaan menanggung konsekuensi saat terjadi banyak kekacauan, demi menangkap pembunuh 8 orang polisi, apa pun konsekuensi yang harus terjadi. Demikianlah perburuan lima jam berlangsung cepat, tepat mengenai sasaran dan dengan penuh perhitungan. Segala perbedaan dikesampingkan demi tujuan bersama tersebut.

Film ini menunjukkan bahwa di dalam setiap relasi antar manusia, pasti tersembunyi maksud-maksud tertentu. Hanya kejelian dan kepekaan yang bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tendensius. 

Alarm diri Andre, tokoh film ini, berbunyi keras saat ia melihat keganjilan detektif polisi bidang narkotika yang di tengah tugas maha penting ini meributkan soal pengasuh anaknya, padahal saat itu pk 02.44 dini hari. 

Lalu ketercengangannya, karena polisi menggerebek tempat yang disinyalir menjadi markas pedagang narkotika, tetapi sesampainya di sana orang itu sudah tertembak oleh polisi yang main hakim sendiri, padahal saksi itu penting untuk menemukan pelarian yang membawa uang hasil penjualan 50 kg narkotik murni. Kemudian terjadi penggrebekan di tempat yang belum terdeteksi oleh pusat data NYPD hingga pelarian ada yang kena tembak. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline