Lihat ke Halaman Asli

Agitasi dan Ambivalensi Modernitas Pada Sastra Indonesia 1920

Diperbarui: 14 September 2018   16:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

serat.id

Sejarawan itu adalah sastrawan yang sedang "nyambi". Meskipun sejarah dan sastra dibedakan secara ketat sebagai dampak warisan pemikiran Leopold van Ranke, namun kemutakhiran metodologi ilmu sejarah kontemporer setidaknya telah membuka batas dan menghasilkan pergumulan baru di antara keduanya.

Ilmu sejarah yang terkesan formal, kaku mungkin juga "angker", mampu dicairkan dalam narasi yang dibangun oleh sastra melalui pembumian data lapangan sehingga point of view nya dapat tersampaikan kepada pembaca.

Sebagai seorang sejarawan pendidik, saya menyesal karena baru khatam tetralogi pulau buru Pramoednya ketika studi master. Anak-anak ilmu sejarah, begitulah saya menyebutnya, bertingkah sinis ketika menyaksikan "kami", anak-anak eks IKIP yang baru belajar "berjalan" alias "latah sosial" dalam meng-"copy" buku sumber yang bagi mereka harusnya telah diselesaikan pada jenjang Strata I. 

Namun, bagi saya itu wajar dan menjadi motivasi tersendiri mengingat "kami" hidup di regime of truth nya dunia pendidikan, sehingga bacaan teori tidak terlalu ditonjolkan. Lagi pula kebudayaan literasi yang dibangun dalam iklim belajar kami sehari-hari boleh dikatakan agak kurang.

Sastrawan Angkatan 1920 khususnya, karya-karya yang dihasilkan seperti roman, novel, puisi dan cerita bersambung hampir seluruhnya berbau politik yang menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap tata kuasa kolonial sangat menginspirasi ketika saya berusaha menggambarkan modernitas Indonesia awal di ruang perkuliahan. 

Dengan percaya diri, saya akan menyertakan tulisan Mas Marco Kartodikromo seperti Student Hidjo, Mata Gelap dan beberapa yang tulisan lain dalam memahami kondisi mental dan sosial masyarakat Indonesia ketika dihadapkan dengan arus globalisasi yang dibawa oleh bangsa Barat melalui Belanda.

Mas Marco adalah pengecualian sastrawan Indonesia 1920 yang mempraktikkan gaya bahasa yang keluar dari pakem Melayu tinggi Balai Pustaka. Pada tahun 1911 ia sempat bekerja di Medan Prijai, koran yang diasuh oleh Tirto Adhi Soerjo. 

Mas Marco juga bisa disebut sebagai peletak dasar realisme sosialis dalam sejarah sastra Indonesia. Kecenderungan agitasi buah pemikiran Mas Marco membuat Kolonial gerah juga sehingga dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban serta kelanggenang kekuasaan. Akibatnya, Marco harus dipenjara berkali-kali. Bahkan, tulisan-tulisannya segera dilabeli "batjaan liar" oleh Rinkes yang kala itu menjabat sebagai direktur Balai Pustaka.

Usaha agitasi tidak hanya dilakukan oleh Mas Marco dan kawan-kawan, tetapi juga organisasi politik kiri seperti PKI yang kerap melakukan propaganda menggunakan media masa. Pada tahun 1924 misalnya PKI mendirikan Kommisi Batjaan Dari Hoofdbestuur PKI. Komisi ini menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan-tulisan serta terjemahan-terjemahan "literatuur socialisme".

Selain mengandung kecenderungan agitasi yang begitu kuat,  buah pemikiran sastrawan 1920-an yang saya catut berikut ini mengandung kemenduaan sikap masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan modernitas Barat.              

"Mata Gelap" misalnya yang ditulis oleh Mas Marco bercerita tentang sosok Subriga, pegawai rendah yang bertugas sebagai tukang tulis (klerk) di sebuah toko. Ia menjalin hubungan dengan bekas gundik Belanda (Nyai), Retna Permata. Hubungan layanya suami istri sah itu diwarnai pula dengan perselingkuhan tokoh Subriga dengan adik iparnya, Retna Purnama. Perslingkuhan itu pun terbongkar oleh pengaduan seorang jongos kepada Retna Permata.   

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline