Lihat ke Halaman Asli

Lukman Hakim

Berbagi itu indah

Sikap Muslim terhadap Berita Kriminal di Medsos

Diperbarui: 21 Februari 2021   10:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: Islami.co

Di era modern ini, seiring dengan majunya ilmu teknologi informasi dan komunikasi maka, kita dapat mengetahui berbagai informasi dunia luar melalui media sosial seperti bencana alam, sepak bola dan kasus kriminal yang masih meraja rela di Negeri ini.

Beberapa kasus tindakan kriminal baru-baru ini diantaranya ialah kasus pencabulan oleh pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Ngoro, Jombang berinisial S (50), ia mencabuli dan memerkosa belasan santrinya. Kiai tersebut mencabuli dan menyetubuhi santrinya mulai tahun 2019 hingga 2020, ia memanfaatkan ketaatan santriwatinya untuk melancarkan perbuatan asusila tersebut.

 Akibat perbuatannya itu, (S) dijerat pasal berlapis tentang pencabulan dan persetubuhan anak di bawah umur. Ia dikenai pasal 76E jo pasal 82 ayat 1 dan 2 serta pasal 76D jo pasal 81 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Begitu juga kasus pembunuhan satu keluarga seniman di Rembang. Pembunuhan ini dilakukan oleh pelaku sekitar jam 23.00 WIB pada hari Rabu (3/2/2021). Pelaku menyatakan bahwa tujuan dari pembantaian ini karena ia ingin menguasai harta benda yang dimiliki oleh korban. Atas aksinya tersebut pelaku terancam hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati.

Masih banyak lagi motif tindakan kriminal seperti pembunuhan istri terhadap suami dan sebaliknya, pembunuhan anak dan kasus korupsi yang dilakukan oleh orang-orang besar.

Lantas, apa tujuan media sosial memberitakan kasus-kasus sebagaiman disebutkan di atas? apakah hanya sekedar agar orang-orang tahu?

Dalam Islam, “Mukmin adalah cerminan mukmin yang lain”.  Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw dari Anas r.a yang berbunyi:

 المؤمن مرآة المؤمن

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain” (H.R Thabrani)

Imam al-Manawi dalam kitab “Taysir Syarah Jami’ Saghir” mengatakan “Engkau adalah cermin bagi saudaramu, apa yang engkau lihat darinya maka, ia cerminan dari dirimu. Jika engkau melihat saudaramu tentang kebaikan atau kejelekan maka hal tersebut adalah untukmu juga” 

Ada lagi yang menjelaskan maksud dari cerminan di atas ialah agar kita melihat kebaikan-kebaikan dari orang lain, dapat menumbuhkan rasa syukur ketika melihatnya serta mencegah dari kesombongan. Sementara ketika kita melihat kejelekan-kejelekan atau aib orang lain maka lihatlah dengan lembut dan samar, jangan disebarkan serta nasihatilah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab “al-Tanwir Syarh Jami’ al-Saghir

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline