Lihat ke Halaman Asli

kristanto budiprabowo

Hidup berbasis nilai

Spiritualitas Transformatif Dibalik Kisah Dewa Ruci

Diperbarui: 29 Agustus 2015   14:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Versi terbaik dan paling “asli” dari kisah Dewa Ruci masih menjadi bahan diskusi yang menarik untuk setidaknya menyadari bahwa proses transformasi religius-etis-epic dalam sebuah sistem budaya tertentu sangatlah kompleks. Beberapa aspek yang secara umum dijumpai dalam setiap pembicaraan mengenai kisah ini meliputi usaha pencarian naskah (arkeologis) yang paling mendukung keutuhan dan keotentikan kisah, usaha pengumpulan foklor – kisah rakyat – penuturan lisan yang beredar dengan interpretasi bebas dari masyarakat, dan muatan spiritual yang intensitas pendekatannya juga sangatlah beragam.

Pada umumnya kisah Dewa Ruci memiliki setting sebuah masyarakat tertentu yang dalam dinamika baik-buruk dan salah-benar membangun kekuatan, koalisi, ilmu, dan peningkatan ekonomi dalam persaingannya dengan masyarakat yang lain. Secara sederhana bisa digambarkan seperti sebuah kerajaan, sebuah klan, sebuah sistem bernegara, bahkan sebuah sistem hukum yang meliputi hukum yang berhubungan dengan relasi antar manusia maupun relasi antara manusia dengan alam semesta – mikrokosmos dan makrokosmos.

Dalam kisah ini juga diperlihatkan bahwa settingnya cukup luas hingga meliputi batas ruang terluar daratan yang mampu dijangkau manusia (Hutan belantara yang belum terjamah), dan batas terluar dan dalam yang bisa ditempuh (Samudra luas yang ganas). Penggambaran sperti ini diperlukan untuk memberi frame sebagai batasan-batasan kewenangan manusia – yang paling sakti, paling berilmu, dan paling berkuasa sekalipun. Ada sesuatu yang tak bisa dimengerti dari segala hal yang mampu dimengerti oleh kehebatan diri manusia paling hebat sekalipun.

Setting sistem relasi yang ditampilkannya juga sangat manusiawi. Ada ketulusan diperlawankan dengan keculasan, ada keberanian diperhadapkan dengan berfikir rasional, ada semangat membara dalam keterbatasan. Ada Guru – ada murid – ada saudara – ada kawan – ada musuh – ada Dewata – ada makhluk ghaib (baik dan jahat) – ada laki-laki – perempuan – orang tua – anak –dalam kelaziman relasi dalam fungsi rangkaian hidup yang selalu indah untuk dicermati.

Seting waktu yang sangat fleksibel menandai bahwa kisah ini tidak menekankan kronologi sebagai hal yang harus mendapatkan perhatian utama. Waktu bisa diperlihatkan begitu cepat namun juga bisa digambarkan begitu lambat, bahkan berhenti. Dan manusia berinteraksi dengan waktu berdasarkan pengalaman rasa dan pikirannya sendiri. Esensi waktu terletak dalam kuatnya manusia mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya.

Ada banyak lagi setting yang bisa diperlihatkan secara detail mengenai hubungan pribadi dengan dunia kosmosnya yang tak jauh dari kedalaman diri makhluk itu sendiri. Bagaimana hubungan penutur (narator) dengan pendengar dan juga dengan tokoh-tokoh yang dituturkan? Bagaimana kisah ini bisa terselib dalam sebuah epos besar mahabarata dan yang dalam pemahaman mainstream epos itu sendiri menjadi bagian yang tidak begitu signifikan sementara bagi konteks lokal tertentu menjadi inti pesan dan pusat dari keseluruhan rangkaian kisah peradaban epos tersebut? Pertanyaan-pertanyaan besar yang menarik untuk diurai menjadi sebuah rangkaian penjelasan yang tentu juga akan memberi refleksi tersendiri.

Bagi saya, yang paling penting untuk direfleksikan bagi konteks kekinian bangsa kita adalah seting sosial kemasyarakat dan sistem agama yang berada di dalam kisah ini. Dan itulah yang akan saya gali untuk melihat semangat religiusitas dan spiritualitas bangsa kita. Nampak dalam cerita bahwa model religiositas yang ditawarkan adalah adanya kedekatan dan refleksi intensif dengan alam. Kedekatan ini menjadi ruang utama dalam manusia (tokoh-tokoh dalam narasi) membangun relasinya dengan sesama, menyusun tingkatan keilmuan yang perlu dijalaninya, membuka cakrawala berpikir tentang realitas yang seluas-luasnya, dan bahkan membangun sistem kepercayaan dalam menemukan spiritualitas terdalam dan terpenting bagi kehidupan.

Demikianlah kisah Dewa Ruci ini muncul saat seseorang atau sebuah komunitas mendalami makna kedekatannya pada alam, menjumpai dan menyadari beragamnya cara pikir dan rasa yang dimiliki masing-masing orang, merenungkan-merayakan-memaknai relasinya dengan semangat-spririt-ruh yang dijumpainya dalam pemikiran-kewaspadaan-pendalaman melalui diri sendiri. Dalam konteks inilah kisah ini dilahirkan, dan akan terus hidup saat orang menghadapi situasi yang sama.

Kalau ada yang serta merta mengaitkan Dewa Ruci sebagai peninggalan Hindu yang dalam era terkenalnya di Jawa lantas dikategorikan beraliran Siwaistik dan karena bersifat mistik lantas juga ditengarai terpengaruh oleh ajaran Tantrik, tentu sah dan dengan begitu malah bisa menemukan banyak pembuktian historiografis. Namun dengan sedikit pertanyaan, apa urgensi kisah itu dalam konteks Jawa yang cenderung berada dalam harmoni monisme dan pantheisme, maka akan mengokohkan pentingnya melihat kisah ini dalam perspektif transformasi budaya dan agama dan bagaimana proses transformasi itu menemukan bentuknya yang paling ideal dalam konteks tertentu.

Dalam perspektif transformasi tradisi lokal dan agama, di Jawa sendiri tidak bisa dengan mudah dirunut sejarah masing-masing agamanya. Dinamika yang terjadi bahkan memaksa kita untuk melihat bahwa sejarah agama adalah sejarah komunitas, sejarah masyarakat dalam interaksinya membangun budaya. Bahkan Islam di Jawa pun, dalam perspektif sejarah agama menjadi sebuah bentuk pendekatan sendiri untuk memahami apa sebenarnya yang disebut dengan agama. Demikianlah Dewa Ruci sebagai sebuah kisah, kiranya dikaitkan dengan identitas keagamaan, tentunya tidak dengan mudah terdefinisi dan dijadikan kepastian menegarai semangat keagamaan tertentu seperti apa yang ditawarkannya. Sebagai sebuah kisah, Dewa Ruci telah memberi warna tersendiri bagi agama-agama yang malang melintang di kesadaran bathin orang Jawa dan dalam dunia spiritualitas yang langsung terhubung dengan perjalanan hidup bangsa ini.

Dari perspektif agama semangat sufistik dalam kisah Dewa Ruci bisa dianggap merupakan pengaruh dari kontekstualisasi interpretasi pada ajaran-ajaran sufisme yang datang bersama dengan kedatangan Islam ke Jawa. Dalam perspektif mistik Jawa, esoterisme yang terkandung dalam kisah Dewa Ruci adalah hasil rekayasa terpenting yang ditawarkan semangat asli agama Jawa untuk menyampaikan pesan tentang hakikat terpenting dan jati diri otentis. Jadi tidak hanya agamawan dan budayawan penting untuk terus mendeskripsikan ulang tentang Dewa Ruci, mekanisme alamiah reinterpretasi terhadap kisah ini yang dikaitkan dengan semangat spiritualitas (dari agama apapun), bahkan pemaknaan esoteris dikaitkan dengan realitas bersemainya mistisisme dengan bentuk modernnya menjadi perlu untuk didialogkan satu dengan yang lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline