Lihat ke Halaman Asli

Kompasiana News

TERVERIFIKASI

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Dinanti Selama Setahun, Sudah Bijakkah Kita Mengelola THR?

Diperbarui: 6 Juni 2019   00:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi rupiah/mxpicture.com

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, salah satu yang dinanti para karyawan adalah pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dari perusahaan. 

Pemberian tunjangan ini memang telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang Tunjangan Keagamaan Bagi Pekerja Perusahaan. Besaran tunjangan yang diterima bervariasi. Namun menurut peraturan yang berlaku, besaran THR adalah setara dengan satu kali gaji pokok.

Pada momen inilah para karyawan memanfaatkan tunjangan untuk berbagai hal, misalnya seperti belanja, wisata, mudik, atau sekadar ditabung. Meski selalu disambut gembira, pembagian THR ternyata memiliki sisi negatif.

Satu hari jelang Lebaran di mal Ciputra, Sabtu (24/6/2017), pengunjung ramai datang.(Mikhael Gewati/Kompas.com)

Menurut Kompasianer Syahirul Alim, THR dapat mendukung budaya konsumtif dalam keluarga, yang akhirnya memunculkan individu bermental peminta.

Misalnya anak yang terus merengek minta dibelikan baju baru bergambar super hero idola ketika hari raya. Kemudian kebiasaan istri yang jauh-jauh hari meminta jatah sekian persen dari total THR yang sedianya diterima para suami.

Hadirnya THR dapat membuat manusia mengikuti irama hawa nafsu. Hingga akhirnya, tunjangan setahun sekali ini tanpa sadar dapat ludes dalam sekejap.

Belum sempat mengunjungi toko barang yang Anda inginkan, uang THR sudah berkurang dan berkurang jumlahnya. Perlahan namun pasti, hingga mungkin tak bersisa sama sekali ketika Idul Fitri tiba.

Dompet terisi penuh di akhir Ramadan, mau? (Sumber: Pixabay.com)

Menurut pandangan Kompasianer Nadira Aliya, ludesnya THR dalam waktu singkat biasanya digunakan untuk menutup utang.

Sebab para penagih utang tiba-tiba lebih agresif meminta uangnya kembali ketika Anda mendapat THR. Mau tak mau, Anda harus membayar terlebih dahulu utang tersebut, sebab ini merupakan kewajiban yang akan dibawa hingga mati jika tak dituntaskan. Amat mengerikan bila ditagih utang hingga ke akhirat.

Alasan kedua yang menyebabkan THR cepat ludes adalah membeli pakaian baru ketika hari raya. Secara tak sadar, ketika merasa memiliki uang lebih banyak dari biasanya, orang cenderung lebih loyal membelanjakannya. Tak ingin uang menguap begitu saja? Cobalah menahan diri dan menetapkan sedari awal apa saja perlengkapan hari Raya yang sebetulnya Anda butuhkan.

Supaya THR dapat digunakan lebih bermanfaat, Anda mungkin bisa mencontoh cara Kompasianer Mbak Avy dalam mengelolanya. Ia memiliki kebiasaan untuk memisahkan pengeluaran dalam 4 pos saja.

Dokumen pribadi

Pos pertama, adalah pengeluaran untuk amal yaitu zakat, infaq dan sedekah. Ini sangatlah wajib dan duduk di rangking utama, karena pada bulan Ramadan, sebagai umat Islam wajib untuk mengeluarkan banyak sedekah dan zakat.

Pos kedua, adalah menggunakan THR sesuai dengan kebutuhan lebaran. Karena THR diberikan untuk memenuhi kebutuhan yang tinggi dalam menyambut hari lebaran, misalnya soal makanan, baju, biaya mudik dan lain sebagainya.

Pos ketiga, adalah menyisihkan sedikit rejeki untuk dibagikan ke keluarga, keponakan, saudara maupun karyawan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline