Lihat ke Halaman Asli

Menjadi Saksi Tragedi Sampit 18 Februari 2001

Diperbarui: 4 April 2017   18:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13295293351374190706

[caption id="attachment_161858" align="aligncenter" width="640" caption="Dok: Tedy, teman dari temannya teman saya M. Syaiful F. *hehehe  (Selamat Datang di Sampit)"][/caption]

Tragedi yang tak telah merenggut lebih dari 200 nyawa manusia telah terjadi di kotaku. Sampit nama kotaku, sebuah kota yang menjadi ibukota dari Kabupaten Kotawaringin Timur, salah satu dari 14 kabupaen/kota yang ada di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Siapa pun tak ada yang menginginkan tragedi ini terjadi di kotaku yang dulunya indah dan bersih karena sempat meraih penghargaan adipura.

Saat itu aku baru berumur 8 tahun 2 bulan, tepatnya masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Tahun 2001 baru saja melewati bulan pertamanya Januari dan semua masih sedia kala. Namun, semua berubah ketika Minggu, 18 Februari 2001 menjadi awal saat dimana kotaku memilki sejarah yang kelam. Bukan maksudku untuk memicu kembali tragedi tersebut, hanya ingin berbagai pengalaman. Berharap pengalaman ini nantinya menjadi pelajaran berharga anak cucu agar tidak akan pernah lagi terjadi tragedi semacam ini, baik di Sampit maupun di wilayah lainnya. Aamiin

*** Minggu, 18 Februari 2001 aku bersama ayahku saat itu sedang melakukan kerja bakti memberihkan pekarangan rumah. Kebetulan rumput dihalaman depan rumah sudah mulai tinggi. Kemudian kerja bakti terhenti ketika ayahku melihat kepulan asap hitam dari arah selatan yang tak terlalu jauh dari rumahku. Ku perkirakan jaraknya antara 1-2 km dan kalau menggunakan motor dalam waktu 5 menit dengan kecepatan 40 km/jam pun pasti sudah sampai.

"bremm.. bremm.. "

Ayahku berusaha menghidupkan motor tuanya. Kemudian aku bantu dorong barulah motor itu benar-benar hidup. Ayahku kala itu mengajakku untuk melihat lokasi kebakaran tersebut. Ya, akhirnya kami berdua pergi dengan segera bahkan karena buru-buru ayahku tidak sempat lagi memakai alas kaki. Belum sampai di lokasi kebakaran, kami sudah di minta berbelok oleh orang-orang bersenjata tajam.

"BELOK PAK, BELOK PAK, ADA KERUSUHAN" teriak orang itu kearah kami.

Dengan sigap, ayahku langsung berbelok dan kembali tancap gas. Untungnya kami di minta berbelok, coba kalau sudah sampai tempat kebakaran, bisa dibayangkan mungkin tulisan ini tak akan pernah rekan-rekan baca.

Ternyata yang terbakar itu adalah rumah dari orang tua tetanggaku dari suku dayak. Aku sering berlatih bermain badminton di jalan depan rumah beliau. Ya, beliaulah yang mengajariku bermain badminton setiap sore hari jika tidak ada kegiatan lain. Menurut kabar yang saya peroleh, dirumah orang tua pelatihku ada sedikit konflik antara suku dayak dan Madura yang menyebabkan rumahnya menjadi korban amukan yang berujung pada aksi pembakaran. Untuk kronolgisnya bisa kalian baca di berbagai artikel yang pada umumnya kontennta sama dan entah awalmula artikel darimana? Dan saya memberikan link ini.

***

Senin, 19 Februari 2001 kejadian memang belum memanas namun hari itu aku tidak pergi ke sekolah, hanya Ayahku yang pergi ke kantor. Kebetulan Ayahku setiap pagi memang harus ke kantor karena ayahku yang pegang kunci kantor. Baru jam 09.00 WIB ayahku sudah kembali ke rumah, dan bilang kalau di kota sepi. Ada juga cerita dari Bapak Yunius Linga, guru bahasa Indonesiaku saat di SMA yang bercerita pengalaman beliau saat pergi mengajar saat hari Senin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline