Lihat ke halaman asli

irvan sjafari

penjelajah

TERVERIFIKASI

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Oya Somantri: Politisi Nasionalis-Religus di Jawa Barat 1950-an (Sebuah Catatan Awal)

Diperbarui: 13 Oktober 2015   22:51

Jawa Barat sejak awal memang basis dari Masyumi. Sekitar separuh kursi parlemen di Jawa Barat pada 1950-an didominasi Masyumi. Namun tidak banyak tokoh-tokoh Masyumi dari provinsi  ini  terdokumentasi dengan baik. Saya mencoba mengumpulkan beberapa di antara tokoh-tokoh itu yang punya warna, hingga suatu hari kelak  generasi muda tidak hanya mengenal tokoh-tokoh Masyumi hanya Natsir dan Sukiman. Hal yang sama saya lakukan (bila waktu memungkinkan) pada tokoh-tokoh lokal dari PNI dan kekuatan politik lainnya.

Oya Somantri (Ejaan lama Oja Somantri, saya pernah menuliskan Oya Sumantri di tulisan lain) adalah di antaranya yang cukup lumayan saya dapatkan sebagai catatan awal. Kelahiran Purwakarta 12 Januari 1914 ini menamatkan pendidikan formalnya di Normaal School sebuah sekolah guru. Ini menandakan ia awalnya adalah seorang pendidik daripada politisi. Walau pun sebelum Perang Dunia ke II Oya berkiprah di Paguyuban Pasundan, satu-satunya aktivitas politiknya. Di luar itu ia hanya bergabung dalam Persatuan Guru dan Persatuan Madrasyah. Yang terakhir ini mungkin membentuk  karakter ideologi Islam-nya. Pada masa pendudukan Jepang Oya bergabung dengan Masyumi.

Sewaktu Perang Kemerdekaan, Oya ikut bergeleriya dan membantu pemerintahan sipil darurat di Jawa Barat. Dalam sebuah referensi disebutkan setelah terjadinya Persetujuan Renville dan kesatuan Siliwangi hijrah ke Yogyakarta, sejumlah lascar di Jawa Barat tidak ikut serta. Di antaranya adalah Kaum gerilyawan Divisi 17 Agustus pada tanggal 17 Agustus 1948 mengumumkan terbentuknya Pemerintah Republik Jawa Barat (PRJB). Divisi 17 Agustus ini menjadi badan ketentaraan PRJB dengan nama Divisi Gerilya 17 Agustus, dipimpin Oya Sumantri (orang Sunda, pimpinan Masyumi setempat) sebagai ketua dan Wahidin Nasution sebagai Wakil Ketua.

Pada 1951 ia mengawali karir politiknya  sebagai anggota DPR Swatantra Jawa Barat mewakili Masyumi. Sekali pun punya ideologi Islam yang kental,  Oya berbeda pandangan dengan kelompok Darul  Islam. Iparnya adalah Komandan Komando Militer Kota Bandung Letkol Dachjar pada 1950-an.

Ayah dari delapan anak ini kemudian menjadi sempat Ketua DPRD Jawa Barat. Dalam sebuah sidang  DPRD Peralihan Jawa Barat pada Senin 24 Setember 1956  Oya Somantri terpilih menjadi Ketua dengan 43 suara. Pada 26-29 Desember 1956 Oja juga menjadi Ketua Panitia Muktamar Masyumi ke 8 di Bandung. Dia kemudian  terpilih menjadi Kepala Daerah Swatantra I Jawa Barat pada awal Januari 1958 (cukup membingungkan fungsinya apa karena ada Gubernur Kelapa Daerah Jawa Barat, yaitu Ipik Gandamana.                   

Pandangan ekonominya cenderung kerakyatan. Ia terang-terangan mendukung sistem koperasi. Di matanya koperasi adalah saluran perjuangan yang tepat bagi masyarakat Indonesia dalam  mencapai cita-cita ke arah penghidupan adil dan makmur (Pikiran Rakjat, 15 Juli 1958). Dalam artikelnya berjudul “Batas” dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Desember 1957 Oja mengungkapkan bahwa rakyat Indonesia masa itu banyak yang menderita, baik penderitaan lahir, mau pun batin.  Penderitaan lahir karena mahalnya harga beras, kekurangan sandang, serta banyak yang tidak mendapatkan tinggal layak.  Sementara tekanan batin disebabkan  rakyat  masih diliputi perasaan jiwa tidak aman, baik di kota-kota apalagi di desa-desa.

..Djustru disaat kita sekalian hendaknja mewajibkan diri  menampung segenap kekuatan membulatkan tekad menuaikan tugas perdjoangan memasukkan IRIAN BARAT ke dalam wilayah Republik Indonesia, membebaskannja dari lingkungan serta kekuasaan Pendjadjah Belanda..”  

Oya menyebutkan petugas negara untuk memperbaiki keadaan ada kalanya harus berkorban perasaan dan nada kalanya melepaskan segala prestise demi keutuhan negara dan keselamatan masyarakat. Saat itu menurut Oya kewaspadaan  nasional diperlukan sekali pun bukan tidak mungkin suasana bertambah ruwet disebabkan setiap orang atau golongan hanya waspada bagi kepentingannya semata-mata.

Mengenai  terjadinya pergolakan daerah akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat dan masih berkecamuknya pemberontak Darul Islam, Oya mengeluarkan pernyataan bahwa sekalipun Jawa  Barat bukan termasuk daerah yang tenteram, pernah dijuluki daerah paling nakal, namun Jawa Barat tidak terpengaruh kekacauan yang ada di pusat (Pikiran Rakjat, 27 Januari 1958).

Sekali pun aktif sebagai politisi Oya tetap tidak melupakan untuk berkiprah di bidang pendidikan. Pada November 1958 ia menjadi salah satu pendiri perguruan tinggi  Islam yang kelak menjadi cikal  bakal Universitas Islam Bandung. 

 

Halaman Selanjutnya


Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline