Lihat ke Halaman Asli

Asaf Yo

TERVERIFIKASI

mencoba menjadi cahaya

"Ngeri-Ngeri Sedap", Film Keluarga dengan Latar Budaya Batak

Diperbarui: 15 Juni 2022   12:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. Imajinari

Halo, sudah lama sekali saya tidak menulis di kompasiana setelah saya mutung (apa sih bahasa indonesianya mutung itu, kayak menyesal gitu kayaknya) hampir setahun. Sekarang saya sudah pulih dan semangat lagi untuk menulis di Kompasiana, hahahaha.  Kali ini saya akan bahas film berjudul ngeri-ngeri sedap. Film yangs udah lama sih tapi kebetulan aku menonton seminggu setelah premiernya hehehe.

Waktu awal menonton film trailernya dan judulnya, tidak ada keinginan untuk menonton film ini, karena judulnya kok aneh, terus nanti kaitannya dengan isi ceritanya gimana ya? Tapi kemudian pikiran saya berubah setelah dua hari setelah premier banyak yang ngeriew bahwa film ini bagus dan layak tonton. Biasanya sih film bagus belum tentu komersil. Tapi tidak ada salahnya untuk menonton. Btw, filmnya mengandung spoiler jadi harap diperhatikan lho ya hehehehe.

Ok, cusss, akhirnya pergi ke bioskop di Surabaya. Yang nonton lumayan banyak, dilihat dari wajahnya sih wajah wajah khas Batak (menurutku lho). Tapi lanjut seperti apa jalan ceritanya ya. Nah, jalan ceritanya itu ada keluarga Batak dengan marga Purba di Danau Toba sana. Ayah ibu itu yang bernama Pak Domu dan Mak Domu , udah kangen sekali dengan ketiga anak lelakinya yang merantau di jawa. Tapi apa daya, ketiga anaknya dengan berbagai alasan tidak bisa pulang, bertahun tahun lho tidak pulang (bagian ini aku masih ragu, beneran itu, gak pulang 10 tahun , empat dan tiga tahun? Walau hanya pulang sehari gitu masak gak?)

Nah, Mak Domu dan Pak Domu ini punya empat anak, si sulung Domu, diikuti Sharma, Gabe dan Sahat. Anak yang tinggal di Toba hanya Sharma saja. Awalnya aku kira ini hanya masalah orang tua kangen aja, tapi seMakin diikuti ada banyak konflik terpendam yang kemudian muncul di permukaan semua setelah keluarga ini berkumpul. Oh iya lupa, Pak Domu sebagai kepala keluarga akhirnya membuat rencana untuk pura pura bertengkar dan mau bercerai dengan harapan ketiga anaknya yang dirantau jadi ingin pulang.

Ketiga anaknya memang pulang, namun pertemuan keluarga akhirnya berubah menjadi penghakiman. Konfliknya klise bagaimana orangtua memiliki pandangan yang berbeda dengan anak-anaknya. Orang tua yang selalu merasa bahwa pendapatnya benar dan pendapat anaknya salah. Mari kita bahas masalah yang dihadapi setiap anak di keluarga Purba ini.

Domu sebagai anak pertama sudah memutuskan untuk menikah dengan orang sunda. Hal yang sangat ditentang oleh Pak Domu. Pak Domu kuatir anaknya tidak akan menjaga tradisi dan budaya Batak kalau menikah bukan dengan wanita batak. Anak kedua, Gabe, memutuskan menjadi seorang comedian ternama di ibukota, padahal memiliki gelar sarjana hukum. Anak lelaki ketiga dan meruPakan si bungsu yaitu Sahat, masih ngurusin pertanian di suatu desa di Jawa dan belum mau  pulang. Padahal sebagai anak lelaki bungsu, sudah menjadi tradisi Batak agar Sahat pulang kampung untuk mengurus orang tuanya.

Bagaimana cara berpikir anak-anaknya? Bagi Domu, tidak masalah dengan siapa dia menikah, yang penting dia Bahagia walau bukan dengan satu etnik, toh menikah bisa dnegan adat Batak. Bagi Gabe, yang penting bisa cari duit dan berkecukupan, tidak masalah kalau tidak menjadi seorang jaksa atau hakim. Dan Bagi Sahat, bukan suatu keharusan untuk dia pulang dan mengurusi rumah serta orang tuanya ( bukan  durhaka ya, aku bingung ngomongnya gimana).

Konflik yang ada di sini sebenarnya konflik umum tpai menurutku sangat kerasa dengan budaya batak, karena di keluarga jawa aku tidak menemukan kasus seperti itu. Tiba-tiba aku ingat film lama berjudul demi Ucok, dimana ada seorang ibu yang ingin sekali anak perempuannya untuk segera menikah dengan lelaki Batak.

Misalnya pernikahan beda etnis, menurutku ini sangat khas banget. Kebetulan aku punya beberapa teman Batak yang memang mengatakan kalau anak laki-laki pertama haruslah menikah dengan sesama Batak karena berkaitan dengan pewarisan tradisi dan budaya. Sementara dalam keluarga Jawa, aku belum pernah atau jarang menemukan orang gagal menikah hanya karena pasangannya bukan etnis yang sama. Dalam budaya jawa biasanya lebih fokus pada bobot bibit bebet, hehehe intinya tidak melihat faktor etnis. Bahkan secara umum biasanya lebih fokus pada pekerjaannya mapan gak, bertanggung jawab tidak, agamanya taat gak, itu sih yang kuperhatikan.

Masalah pasangan beda etnis ternyata bukan kasusnya si Domu saja, tapi juga terjadi pada Sharma. Sharma yang sebelumnya pacarana dengan nuel, akhirnya harus kandas karena Pak Domu tahu bahwa Nuel meruPakan orang Jawa. Beberapa teman Batak yang aku kenal (tidak semua ya) bilang, kalau memang tidak bisa menikah dengan orang Batak, Maka opsi berikutnya adalah menikah dengan orang Tionghoa. Jadi opsi etnis lain itu opsi terakhir kalau sudah kepepet. (Ingat, ini kasus per kasus ya).

Bagi semua anak Pak Domu, Pak Domu merupakan seorang ayah yang otoriter, ayah yang merasa bahwa dia paling benar dan pendapatnya harus disetujui (untuk hal ini, hal yang sangat umum. Orang tua manapun cenderung untuk merasa benar dan yang lain salah). Bukan hanya di mata anaknya, tapi juga dimata istrinya alias Mak Domu. Suatu perceraian yang rencananya hanya pura-pura, akhirnya berubah menjadi ancaman serius kala Mak Domu memutuskan untuk pulang ke rumah opungnya alias orangtuanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline