Lihat ke Halaman Asli

吳明源 (Jonathan Calvin)

Pencerita berdasar fakta

Tantangan dan Peluang Industri Makanan dan Minuman

Diperbarui: 12 Februari 2018   17:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

invoke.pt

Dalam suatu seminar bertajuk "Tantangan dan Peluang Industri Makanan dan Minuman" dengan menghadirkan narasumber Adhi S. Lukman yang saat ini menjabat sebagai ketua GAPPMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia). Selain menjabat sebagai ketua GAPPMI, Adhi juga menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) PT. Niramas yang mengibarkan bendera Inaco dengan produk utama Nata De Coco.

Sebelumnya, Adhi juga pernah menjabat President AFBA (Asian Food Beverages Alliance) pada masa jabatan 2016/2017. Adhi juga dipercaya sebagai anggota pokja (kelompok kerja) ahli mewakili dunia usaha di Dewan Ketahanan Pangan Nasional di bawah presiden dengan ketua harian Menteri Pertanian Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman

Dalam pembukaannya, Adhi menjelaskan bahwa Indonesia patut bersyukur karena telah diberikan anugerah dari Tuhan dengan jumlah penduduk yang banyak dan juga sumber daya alam yang cukup banyak serta perkembangan terakhir, Indonesia masuk dalam kelompok negara yang memiliki penghasilan GDP (Gross Development Product) mencapai US$ 1 triliun. Dengan kondisi tersebut, dunia pangan merupakan salah satu yang diuntungkan karena kegiatan makan tidak bisa diubah dalam wujud digital (digitalisasi).

Apabila dilihat kembali, Pulau Jawa masih memegang kontribusi pemasukan terbesar bagi GDP hingga 60% dari total GDP. Hal ini menjadi jawaban mengapa industri banyak yang berdiri di Pualu Jawa dan hampir sebagian populasi rakyat Indonesia berada di Pulau Jawa. Namun, ditegaskan oleh Adhi bahwa pemerintah saat ini sedang mengupayakan pemerataan terkait distribusi barang.

Industri makanan dan minuman sendiri masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035 dan menjadi salah satu industri andalan karena kontribusi terhadap pertumbuhan GDP sangat besar. Untuk industri makanan di Indonesia berjumlah sekitar 100 hingga 6000 dan jumlah yang lebih besar ditunjukkan dari industri kecil, menengah, dan rumah tangga sekitar 1,6 juta. 

Banyaknya pelaku industri kecil turut mendukung perekonomian nasional dan bahkan pertumbuhannya seringkali lebih besar dari pertumbuhan nasional. Berdasarkan data, pertumbuhan industri kecil, menengah, dan rumah tangga hingga quarterIII di tahun 2017 mencapai 9,6% sedangkan kontribusi terhadap PDB (produk domestik bruto) sekitar 35%. Dibandingkan sektor migas, sektor Non-migas (salah satunya pangan) menyumbang kontribusi terbesar bagi pendapatan negara.

"Saat kita bertemu dengan Presiden Jokowi, ia mengatakan bahwa industri pangan dan minuman merupakan industri yang paling tahan dan paling bagus karena apabila kedua industri tersebut sudah goyang artinya ekonomi negara tersebut sudah menjelang kehancuran"tegas Adhi.

Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), di tahun 2017, pertumbuhan industri makanan dan minuman mengalami anomali terutama di industri minuman yang penjualannya mengalami perlambatan tetapi masih ada pertumbuhan. Menurut Adhi, industri makanan dan minuman erat kaitannya dengan distribusi yang terbagi dalam 2 jalur, modern trade yang terdiri dari minimarket, supermarket, dan hypermarketserta traditional trade yang terdiri dari pasar tradisional dan toko. Pertumbuhan penjualan lebih besar ditunjukkan oleh modern trade sebesar 1,3%

Masalah yang melanda saat ini, untuk jalur supermarket dan hypermarket,pertumbuhan penjualan mengalami kerugian. Berbeda dengan keduanya, pertumbuhan minimarket saat ini semakin banyak dan mulai menjamur. Menurut data audit retaildari Nielsen, pertumbuhan penjualan produk makanan  memang menunjukkan penurunan dibandingkan tahun lalu, akan tetapi lebih baik dibandingkan sektor di luar makanan. 

Dilihat dari pertumbuhan FMCG (Fast Moving Consumer Good) yang mensurvey produk retail dari 5 kategori, menunjukkan pertumbuhan di Pulau Jawa menunjukkan perlambatan sedangkan di luar Pulau Jawa mengalami peningkatan. Menurut Adhi, hal ini terjadi karena pemerintah saat ini lebih condong mendorong distribusi menuju Indonesia bagian timur. Selain itu, pulau di luar Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan juga didorong oleh sumber daya alam yang cukup besar yang berkontribusi peningkatan persebaran produk

Untuk pertumbuhan industri mie instan dan air mineral di tahun 2017 mengalami penurunan, sedangkan pertumbuhan paling banyak ditunjukkan oleh industri seasoning (bumbu masak), susu,  dan makanan berbasis sereal. Dari pengamatan Adhi, hal ini menunjukkan ada perubahan terkait pola hidup (lifestyle) masyarakat saat ini yang cukup sibuk sehingga bekal yang dibawa berupa makanan sereal.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline