Lihat ke Halaman Asli

Y. P.

TERVERIFIKASI

#JanganLupaBahagia

Bank Sentral AS Akhirnya Turunkan Suku Bunga Acuan

Diperbarui: 1 Agustus 2019   15:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kantor The FED - Reuters.com

Setelah lebih dari 10 tahun The FED atau Bank Sentral AS tidak menurunkan suku bunga acuan, akhirnya kemarin mereka secara resmi telah menurunkannya 0.25 basis poin. 

Menurut analisis pribadi saya, sikap ini adalah jawaban atas pesimisme para ekonom dunia terhadap pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi tidak akan maksimal di tahun ini.

Sebelumnya Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 adalah 2.9%. Namun di pertengahan tahun ini mereka mengoreksi proyeksi pertumbuhan sebesar 0.3% menjadi 2.6% saja. Bank Dunia juga mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5.2% menjadi 5.1% persen saja di tahun ini.

IMF Senada dengan Bank Dunia
Terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi global ternyata IMF juga punya pandangan yang sama dengan Bank Dunia. Hal itu termuat dalam laporan IMF yang dirilis pada bulan Juli 2019. IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini sebesar 0,2% menjadi 3,2% saja. 

Lebih jauh bahkan IMF mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 juga mengalami menjadi 3,5%, atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,6%.

Pesimisme IMF terhadap pertumbuhan ekonomi global didasari pada fakta bahwa secara global perekonomian masih mengalami pelemahan. 

Terkait perang dagang yang kian marak terjadi, sejatinya IMF menyarankan agar negara-negara menghindari penggunaan tarif bea masuk sebagai alat untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan internasional.

Dampak Kebijakan Bank Sentral AS
Hasil dari kebijakan yang seolah berubah 180 derajat dari kebiasaan 10 tahun terakhir ini ternyata membawa dampak kepada beberapa hal. Diantaranya adalah pelemahan harga minyak mentah.

Kalau diperhatikan harga per hari ini, minyak Brent untuk kontrak pengiriman Oktober turun 1,49% ke level US$ 64,2/barel. Demikian juga untuk harga minyak light sweet turun 1,37% menjadi US$ 57,78/barel.

Hal ini sejatinya wajar saja terjadi, karena disaat ekonomi kurang baik pasti permintaan minyak mentah pasti juga berkurang. Jika permintaan berkurang, maka harga sudah pasti turun.

Namun kalau dilihat dari nilai tukar Rupiah terhadap Dollar nampaknya tidak banyak berpengaruh. Hal ini mungkin disebabkan Bank Indonesia telah lebih dini menurunkan suku bunga acuan pada tangal 18 Juli 2019 dari 6% menjadi 5.75% atau turun 0.25%.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline