Lihat ke Halaman Asli

James P Pardede

Freelancer

Sugianto Makmur: Saya Merasa Bahagia Bisa Berbagi Lewat Hutan Bakau Kun Kun

Diperbarui: 13 Juni 2019   23:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hutan Bakau banyak yang beralih fungsi menjadi kebun sawit - james p pardede

Baru saja Sugianto Makmur mengunjungi Desa Kun Kun, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal. Kunjungannya kali ini untuk memastikan apakah hutan bakau yang dibelinya beberapa tahun silam dari masyarakat sekitar sudah hijau kembali dan memberi manfaat bagi masyarakat disekitarnya.

"Saya sangat bahagia saat menyaksikan hutan bakau yang sudah tumbuh kembali dan tinggi pohon bakaunya seragam. Dengan upaya pelestarian hutan bakau ini, masyarakat sekitar bisa mendapatkan keuntungan. Saat melihat masyarakat bisa memperoleh kepiting dan ikan dari kawasan hutan bakau Kun Kun, saya merasa sangat senang dan bahagia bisa berbagi lewat hutan bakau ini," kata Sugianto Makmur saat mengelilingi hutan bakau miliknya di Desa Kun Kun.

Upaya konkrit yang dilakukan Sugianto dalam menyelamatkan hutan bakau dengan melakukan konservasi mandiri telah memberi dampak positif bagi lingkungan, bagi hewan dan mahluk hidup lainnya termasuk warga masyarakat yang tinggal disekitar kawasan hutan bakau Kun Kun..

"Ada sekitar 100 hektar lahan yang kami ganti rugikan milik masyarakat pada tahun 2009 lalu. Hutan ini saat dibeli kondisinya sudah dalam keadaan rusak, tidak ada lagi pohonnya. Perlahan dan pasti, hutan mulai pulih kembali. Sekarang, hutan ini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan hutan bakau Kun Kun. Masyarakat memanfaatkan hutan bakau ini sebagai tempat untuk menangkap kepiting, udang dan ikan," kata Sugianto Makmur.

Hutan Bakau Kun Kun - james p pardede

Dengan kondisi hutan bakau di Kun Kun yang sudah pulih, Sugianto hanya meminta kepada masyarakat untuk tidak menangkap ikan atau kepiting yang terlalu kecil serta tidak menembak burung yang tinggal di hutan bakau, terutama burung langka yang masuk dalam daftar dilindungi.

Sepanjang perjalanan mengembalikan fungsi hutan bakau yang rusak di Kun Kun, Mandailing Natal, menurut ayah 4 anak ini, ada beberapa kali tawaran dari pengusaha yang mau membeli lahan yang sudah dikonservasi untuk dijadikan kebun sawit.

"Saya tolak mentah-mentah. Karena, ada kepuasan batin yang besar dalam merawat hutan bakau ini. Hampir semua paluh sungai di sana, sudah berubah menjadi kebun sawit, tepatnya diseberang lahan yang kami kelola dan konservasi secara mandiri," tandas Sugianto.

Kunjungan Sugianto Makmur bersama dengan putra pertamanya, Stanley Joshua Makmur ke Desa Kun Kun yang berada di kawasan Pantai Barat Mandailing Natal sekaligus untuk melihat keberadaan burung Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostri) atau kerap juga disebut burung rangkong yang dilepasnya dua tahun silam. Sepasang burung rangkong terdengar bersahut-sahutan saat Stanley melakukan kunjungan ke hutan bakau di desa Kun Kun.

"Saya tidak tahu pasti apakah burung rangkong yang saya lihat di hutan bakau adalah burung rangkong yang saya lepas dua tahun lalu. Yang jelas, saya sangat merasa senang bisa melepasliarkan burung rangkong tersebut ke habitat aslinya," tandas Stanley saat mengamati keberadaan rangkong di hutan bakau Kun Kun.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline