Lihat ke Halaman Asli

Irwan Rinaldi Sikumbang

TERVERIFIKASI

Freelancer

Inul Tak Menyesal Meski Tidak Tamat SMP, Sekolah Hanya untuk Mencari Pekerjaan?

Diperbarui: 4 Februari 2020   00:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. Kapanlagi.com

Dalam sebuah acara ajang pencarian bakat penyanyi dangdut yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta, saya tertarik mendengarkan komentar Inul Daratista yang bertindak sebagai salah satu juri.

Ketika itu baru saja seorang peserta selesai tampil menyanyi dan dilanjutkan dengan obrolan ringan dengan pembawa acara. Ya namanya juga reality show, tentu pembawa acara harus pintar menggali kisah sedih yang pernah dialami para peserta.

Kebetulan si peserta yang saya maksud menceritakan bahwa ia tidak tamat SMP, karena di samping ekonomi orang tua yang tidak mendukung, ia merasa telah mampu mendapat uang dengan menyanyi di acara pernikahan atau acara lainnya, walaupun baru sebatas level kampung.

Inul Daratista yang merasa latar belakangnya mirip dengan perserta itu, langsung berkomentar dengan mata yang berkaca-kaca.

"Saya juga tidak tamat SMP. Saya telah mengecewakan orang tua saya. Tapi saya tidak menyesal, karena kemudian berhasil membuktikan kemampuan saya," begitu lebih kurang komentar Inul yang terkenal dengan goyang ngebor-nya itu.

Apakah Inul memang tidak menyesal? Mungkin saja ia berkata jujur. Toh buktinya sekarang Inul adalah artis nasional papan atas, yang tentu berlimpah kekayaan.

Tapi bagi anak-anak yang masih dalam usia sekolah perlu hati-hati mencermati komentar Inul. Bagaimanapun juga, program wajib belajar selama 12 tahun, maksudnya sampai tamat SMA atau sederajat, harus dipandang bukan sebagai kewajiban semata. 

Malah sebetulnya lebih tepat disebutkan merupakan hak semua anak, karena penting sekali untuk masa depannya, terlepas dari apapun nanti pekerjaannya.

Dulu di era saya masih duduk di bangku SD tahun 1970-an, ada beberapa teman saya yang berhenti sampai kelas 5 saja. Alasannya karena ia sudah pandai membaca, menulis, dan berhitung.

Menurut teman itu, tujuan sekolah adalah untuk mencari uang. Jadi, kalau sudah mampu mendapatkan penghasilan, buat apa capek-capek belajar?

Nah dalam usia yang masih sangat remaja, si teman ini "dikader" oleh ayahnya sebagai pengemudi delman (bahasa Minang: kusia bendi).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline