Lihat ke Halaman Asli

Inosensius I. Sigaze

TERVERIFIKASI

Membaca dunia dan berbagi

Literasi Pengusaha Kebun Sayur Desa Kerirea: Menyambut Down Payment (DP) 0 Persen

Diperbarui: 25 Februari 2021   14:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok.pri

Kisah sedih waktu itu, sedih yang tidak terhindarkan. Semua terbawa arus emosi terlalu susah hidup di tanah sendiri. Enam tahun harus merantau di tanah Malaysia, tanpa luput dari kenangan seorang anak di bawah umur di tangkap polisi Malaysia tahun itu. Penjara tidak ada pilihan dari cerita datangnya pekerja-pekerja gelap asal Flores Indonesia tahun-tahun itu.

1989-1996 telah menjadi rentang sejarah dari Rofinus Kanisius Tiga (RKT) mengadu nasib di Malaysia tanpa surat-surat izin kerja resmi dan formal. Tidak ada pertimbangan dan cara pandang yang bisa mengubah keputusan untuk merantau ke Malaysia. Malaysia bagi sebagian besar perantau adalah tanah terjanji yang memungkinkan beribu-ribu tenaga kerja tanpa kualifikasi pendidikan, bekerja dan menopang hidup keluarga mereka.

Cerita yang tidak mudah berakhir hingga senja hari ini sekali lagi pergi. Mengapa sejak tahun 1980-an sampai sekarang sebagian besar orang-orang Flores hidup bekerja di Malaysia? Alasan sederhana bisa terdengar jika ada bincang-bincang di pinggir jalan.

Tanpa Malaysia, anak kami tidak mungkin menjadi sarjana. Tanpa Malaysia rumah kami tidak mungkin bisa dibangun. Tanpa Malaysia, mungkin akan tetap bujang di tanah perantauan sana....mungkin tetap susah dan terbelakang."

Malaysia dalam tanda petik adalah tanah Perjanjian di mata anak-anak, tetapi Babylon bagi pekerja asing di sana. Demikianlah ringkasan cerita kenangan RKT yang pernah 6 tahun di sana.

Apa yang dikerjakannya di sana?

Sebagai anak bawah umur, ia mula-mula bekerja sebagai tukang sapu di kandang tempat peternakan ayam. Selanjutnya ia pernah bekerja di perkebunan kelapa sawit, ia juga pernah bekerja pada perkebunan sayur orang-orang Malaysia. Entahlah kerja apa lagi, yang penting dapat kerja, itu prinsip yang terlihat sia-sia di sana. Rupanya, ia memakai filosofi ini: sambil menyelam, minum air dulu sejenak. Artinya sambil bekerja sebagai buruh kasar karena tidak punya ijazah, ia sambil belajar, bagaimana orang Malaysia menanam sayur hingga menjadi pengusaha yang kaya dan bisa sekali panen, dengan santai berangkat ke luar negeri, jalan-jalan.

Pengalaman kecil dari kisah di perantauan penuh susah itu perlahan memotivasinya hingga kembali ke Flores, tanah kelahirannya dengan janji, "Tidak akan untuk kedua kalinya ke Malaysia." Ia berjuang melupakan tanah terjanji di mata banyak anak-anak sekolah, namun ia tidak hanya sekedar melupakan itu semua, melainkan ia mencoba dengan bekal ilmu tanpa ijazah dari perantauan 6 tahun itu untuk menjadi pengusaha sayur kecil di pesisir desa Kerirea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.

Ia mulai bekerja tanpa modal, ya cerita yang pahit ketika harus mencangkul tanah-tanah dengan cangkul, maaf bukan dengan mesin. Perjalanan awal mengadopsi ilmu orang, beranjak dengan penuh susah payah. Gagal, rusak tanamannya terjadi berulang-ulang dan telah menjadi bagian dari eksperimen-eksperimen kecil petani desa yang tanpa bimbingan dan dukungan modal pemerintah atau siapa saja.

Ia mulai mengerti dengan filosofi-filosofi sederhana tanpa pendidikan tinggi alias orang yang sarjana di bidang pertanian. Apa saja filosofi dasarnya:

1. Untuk hidup itu orang butuh air. Jika ada air, maka pasti ada kehidupan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline