Lihat ke Halaman Asli

Ina Purmini

ibu rumah tangga, bekerja sebagai pns

Menyikapi Privilese, agar Tak Lahir Mario-Mario Baru di Indonesia

Diperbarui: 11 Maret 2023   12:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(foto : freepik.com)

Namanya Mario Dandy Satrio (MDS), dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kaya raya karena ayahnya seorang pejabat di Kementerian Keuangan. Wajar kehidupan MDS sejak lahir penuh dengan kemudahan,tak pernah sedikitpun kesulitan dirasakan dalam hal materi. Bukan hanya kebutuhan yang terpenuhi, tetapi keinginan juga dapat dicapai dengan mudah. Dengan privilese semacam itu, rasanya akan mudah bagi MDS untuk mencapai hidup yang sukses, aman, tentram, bahagia, sejahtera. Namun fakta berkata lain. Belum juga mencapai finish (selesai kuliah), Mario tersandung kasus dugaan tindak pidana penganiayaan.

Menilik nama belakangnya yaitu Satrio, tentu ada sebuah pengharapan besar dari orang tua bahwa Mario kelak akan menjadi seorang ksatria. Seseorang yang mempunyai sikap gagah berani membela kebenaran, teguh pendirian, berintegritas, jujur, bertanggung jawab, bersikap welas asih kepada sesama, bijak sederhana dalam kehidupan dan tak sungkan minta maaf jika bersalah. Namun yang kita temui saat ini, Mario menjelma menjadi seorang remaja yang suka berfoya-foya dengan kekayaan ayahnya, dan tega melakukan penganiayaan begitu sadis kepada sesama!

Lalu bagaimana seharusnya menyikapi privilese, yang semestinya bisa membawa kehidupan seseorang untuk meraih sukses dengan mudah, tetapi justru berbalik membuahkan malapetaka bagi si empunya, seperti senjata makan tuan.

Privilese dapat membentuk karakter baik atau buruk pada anak, tergantung bagaimana kita menyikapi  privilese tersebut. Sebagai orang tua dan melihat pola asuh dari  teman-teman kantor serta tetangga sekitar,  ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk membentuk karakter anak, terkait dengan privilese yang dimiliki.

1. Tidak memenuhi setiap permintaan anak 

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, salah satunya dengan memenuhi keinginan anak. Semasa kecil, anak yang dilahirkan dalam keluarga berada, tentu sangat mudah mendapatkan mainan-mainan mahal, bagus, mewah. Namun sebagai orang tua sebaiknya kita selektif. Buat batasan tertentu, seberapa mahal yang diperbolehkan untuk membeli sebuah mainan. Mainan bagi anak sejatinya untuk melatih tumbuh kembangnya, mendukung pertumbuhan fisik dan mentalnya, mainan yang edukatif tentu lebih baik.

Kita sering mendengar istilah anak yang "terlalu dimanja" akhirnya tidak menjadi anak yang baik, tetapi sebaliknya tidak sesuai harapan orang tua. Ingin membahagiakan anak dengan memenuhi permintaan dibelikan motor, ternyata dibuat balapan liar. Bahkan ikut menjadi anggota geng motor dan berbuat onar! Orang tua mana yang tidak sedih mengetahui anaknya menjadi anggota geng motor yang sering berbuat kasar dan merusak? 

2. Pertimbangkan waktu pemenuhan

Karena uang dan materi bukan kendala, biasanya orang tua langsung memenuhi permintaan anak saat itu juga. Permintaan mainan, sepatu, tas, baju, sepeda, motor dan lain-lain kebutuhan anak. Uang ada, kesempatan ada, mengapa harus menunda permintaan anak? 

Namun dampaknya adalah, anak akan menilai orang tuanya selalu ada uang, kapan pun dia mau. Suatu saat jika anak menginginkan sesuatu yang lebih besar nilainya, dia tidak akan bisa dan tidak mau mengerti jika dijawab dengan "Mama/Ayah sedang tidak ada dana yang cukup." Dan ini bisa menimbulkan kemarahan anak yang destruktif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline