Lihat ke Halaman Asli

Indahnya dan Ramahnya Sawarna!

Diperbarui: 12 Juli 2017   18:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Karang Taraje

Lebaran kemarin, sebenarnya saya tidak punya rencana berlibur. Selain sedang berhemat, juga malas bermacet-macet ria ke tempat-tempat wisata. Saya berencana pulang kampung saja ke Rangkasbitung, Lebak, Banten. Tapi karena Ibu saya kekeuh ingin 'main', saya pun menawarkan beberapa alternatif pergi ke Bandung atau Cirebon, asal naik kereta. Eh sayangnya tiket kereta pun sudah ludes, maklum Lebaran, sedangkan saya paling anti terjebak kemacetan panjang menuju Bandung.

Akhirnya muncul ide ke Pantai Sawarna, yang dari dulu sebenarnya ingin saya kunjungi. Apalagi pas saya cek Google Map, wow garisnya biru, bukan merah! Karena perjalanannya jauh, sekitar 150km (3.5 -- 4 jam dari Rangkasbitung), saya harus pastikan penginapannya ada, soale bawa emak-emak. Kalau sampai dia marah, bisa kelar hidup gue.

Di Google Map ternyata cuma ada 3 penginapan. Sempat deg-degan karena 2 penginapan pertama tidak ada kamar kosong. Tinggal Penginapan Srikandi. Saya hubungi orangnya, namanya Pak Encep (Sunda banget euy) yang bilang kamarnya tinggal 2, pakai AC dan non-AC. Saya bilang pakai AC dong, namanya juga orang kota hehe. Katanya harganya Rp 600ribu untuk 6 orang. Saya pikir-pikir sayang juga ya kalau kapasitas 6 orang cuma diisi 2. Akhirnya saya ajaklah tante, om dan sepupu-sepupu saya, sekalian penuhin mobil hehe.

Yowiss, besoknya kami pun berangkat. Lancar banget lho. Cuma bisa senyum-senyum manja pas tahu di berita kalau jalan ke Anyer dan Carita macet berjam-jam sampai pada pingsan-pingsan. Kasihan deh, mau liburan malah pingsan. Buat yang belum pernah ke Sawarna, tinggal buka Google Maps aja, tapi sebaiknya pakai provider Telkomsel yah. Soalnya sinyalnya paling kencang di situ, gak ada lawan.

Dari Bayah menuju Sawarna, kami melewati Pantai Pulomanuk, Karang Bokor, Pantai Goa Langir dan Pantai Ciantir. Jalanannya lumayan sempit, bisa sih 2 mobil tapi seperti Tantri Kotak bilang, pelan-pelan saja. Kalau 2 mobil ketemu, salah satu mesti ngalah dan minggir dikit biar gak kesenggol. Bis juga bisa lewat kok. Karena libur panjang, lalu lintas agak ramai terutama motor.

SUNSET DI SAWARNA

Setelah melewati Ciantir, nanti di kanan jalan ada lapangan parkir luas bertulisan Pantai Tanjung Layar. Parkir mobil saja disitu, tiket parkirnya Rp 25.000, terserah mau sampai kapan. Buat pemotor, saya kurang tahu biayanya berapa. Masih ada tiket masuk untuk pengunjung juga cuma Rp 5000. Dari lapangan parkir itu, kamipun dijemput oleh Pak Encep dan beberapa tukang ojek dengan biaya Rp 10.000/orang hingga ke penginapan.

Suasananya mirip dengan di kepulauan Seribu atau Gili Trawangan (minus bule). Sempat bingung pas kami diantar ke penginapan Aliya, bukannya Srikandi. Tapi bener sih kamarnya ber-AC dan muat 6 orang, bisa 10 orang malah. Tau gitu, bawa rombongan lagi ya biar tambah rame. Ohya ada kamar mandi dalam dan lumayan bersih. Sayang air ledengnya keluarnya seiprit, jadi yang mau mandi mesti nunggu airnya penuh dulu.

Pasir Putih

Mumpung masih sore, kami mau lihat sunset dong. Ternyata masih harus jalan kaki dulu menuju pantai, lumayan jauh, sekitar 15 menit (500m -- 1 km). Tapi perjalanan itu tidak sia-sia kok. Indah sekali sunsetnya. Keunikan pantai Sawarna adalah ada sisi pantai yang berpasir dan sisi pantai yang penuh karang. Disarankan berenang di pantai berpasir yang berkarang, karena karangnya akan memecah ombak pantai selatan yang besar sekali.

Di tepi pantai itu juga ternyata banyak sekali penginapan homestay, biasanya dengan kamar mandi luar atau kamar mandi umum yang berbayar (tarif untuk mandi Rp 5000, buang air Rp 3000). Saya pernah coba kamar mandi umumnya, pas kebelet hehe, ternyata lumayan bersih lho. Saya juga baru tau ternyata banyak juga kamar penginapan yang masih kosong, sayang belum terdaftar di Google Maps. Tapi banyak juga anak-anak muda yang berkemah persis di tepi pantai. Wah seru juga ya, sayang saya bawa anak-anak tua... uhuk uhuk.

Untuk makanan, don't worry be kenyang. Banyak warung kok disana dan harganya sama ama makan di warteg. Gak digetok seperti biasanya terjadi di tempat wisata. Tapi kami sekeluarga memilih makan di warung persis sebelah kamar kami. Tinggal teriak, "Masak apa bu?!" Terus dijawab, maunya dimasakin apa? Mantap kan! Makanan enak, harga murah, puasnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline