Lihat ke Halaman Asli

Misteri di Balik Kabut Asap Kalimantan Tengah

Diperbarui: 4 April 2017   17:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Alat minim !. Semoga hujan datang segera."][/caption][caption caption="ASN Prov. Kalteng bersatu padamkan api."]

[/caption][caption caption="Asap alami menjadi berkah menguatkan seluruh manusia terpapar."]

[/caption]

 

A. Wacana berpikir.

Sudah sejak lama di Kalteng kami mengalami kabut asap saat kemarau tiba, mulai yang paling parah tahun 1997 dan tahun 1995 ini seterusnya sejak Bulan Juli 2015 kami menikmati kabut asap yang mirip dengan tahun 1997  di Kalteng.  Korbannya adalah semua orang yang ada di Kalteng. Tapi masih beruntung karena jenis asap ini tinggi gizinya karena bukan asap industri, tetapi asap bakaran bahan alamiah flora, fauna dan tanah kering. Kegiatan tanggap darurat yang dilakukan lokal tidaklah kurang, namun menghadapi luasnya tempat kejadian perkara (luas Kalteng 1,5 kali P. Jawa) maka tak mungkin dengan segenap sumberdaya yang ada dan juga sebagai korban yang sewajarnya mendapat bantuan dari luar yang lebih baik, tak dapat diharap mampu berbuat cukup memadamkan api yang terus meluas di bawah permukaan gambut.

Sejak lama kearifan  Suku Dayak tak mau membuka lahan gambut untuk budidaya apa pun. Permukiman mereka menjauh dari areal gambut. Namun kegiatan transmigrasi tahun 1950 an ke atas telah membuka lahan gambut di Basarang Kabupaten Kapuas dengan kanalisasi dan permukiman. Basarang yang awalnya untuk sawah sekarang menjadi kebun tanaman keras mayoritas orang Bali. Sawah kurang berhasil karena setelah 20 tahun pengolahan lahan sawah senyawa kimia pyrite naik meracuni padi.

Tahun 1995 diulang lagi oleh pemerintah Proyek Lahan Gambut Satu Juta Hektar (1,4 juta ha) di Kalteng yang akhirnya menjadi proyek sejuta masalah dan penghasil asap terbesar di dunia. Seingat saya hasil survey tanah di lokasi itu menemukan adanya peat dome atau kubah gambut setebal 23 meter yang telah mengisap sebuah alat berat escavator tanpa bisa diambil lagi. Bahwa penetapan proyek PLG saat itu sebuah keputusan politik untuk mempertahankan swasembada beras amat jelas. Karena penetapan lokasi di Kalteng tanpa diawali tahapan proyek yang logis yaitu kajian hasil pemetaan tanah untuk kepastian kesesuaian lahan bagi tanaman padi. Semua dilakukan top down segala pendapat harus menyesuaikan dengan keputusan itu. Contohnya survei tanah dilakukan bersamaan dengan penggalian kanal. Seyogyanya tahap yang benar dimulai identifikasi lahan, kajian kesesuaian lahan, bila sesuai maka lanjut ke putusan lokasi proyek. Dalam hal ini, semua jadi terbalik. Saat itu ada euphoria jargon tinggal landas, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Indonesia dipercepat dengan jargon berawal di akhir dan berakhir di awal. Bahwa lahan yang tak sesuai untuk padi bisa sesuai dengan muatan iptek.

Khusus tentang tanah gambut ini adalah bahan organik dalam bentuk akumulasi tanaman yang dalam tahap belum membusuk menjadi tanah seperti potongan jerami atau serat-serat tanaman.

Dalam era reformasi ini dengan  krisis asap dan model penanganannya, bahwa publik tentu bertanya sebagai berikut:

1. Pembuatan blocking kanal areal gambut.

Cara ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, namun belum ada bukti berhasil. Banyak ulasan teknis tentang kiat ini yaitu tetap saja hasilnya belum jelas. Bahwa pembangunan kanal primer Proyek padi PLG 1,4 juta hektar dan anak salurannya yang mencapai 4000 km telah mengeringkan lahan gambut Kalteng. Kami di awal proyek pernah menyarankan agar dilakukan pilot proyek demonstration plot di buka sampai bisa menjadi model penerapan skala besar. Namun terabaikan, karena motivasi bangun kanal yang sekaligus untuk saluran mengeluarkan logs dari hutan gambut. Karena amat sulit menyarad batang pohon di lahan gambut yang amblas.

2. Kurangnya upaya mencari local wisdom kearifan lokal.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline