Lihat ke Halaman Asli

Herman Wijaya

Pedagang tempe di Pasar Depok

TVRI Harus Berada di Hati Masyarakat. Siapa Bisa?

Diperbarui: 15 Februari 2020   19:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Gonjang-ganjing kisruh TVRI setelah pemecatan Helmy Yahya sebagai Direktur Utama (Dirut) nampaknya segera berakhir. Dewan Pengawas (Dewas) TVRI telah merilis 30 nama yang telah mendaftar untuk menjadi Dirut TVRI untuk menggantikan Helmy, setelah sang raja kuiz dan reality show itu seperti "melempar handuk", meskipun sebelumnya menggebu-gebu akan membawa perkara pemecatan dirinya ke ranah hukum.

Pertanyaan selanjutnya adalah, siapa sosok yang pas untuk menduduki posisi Dirut, dengan kriteria cakap di mata Dewas dan mampu membawa TVRI menjadi lembaga penyiaran publik yang bisa diterima oleh masyarakat. Kita tahu, sejak lahirnya televisi swasta di Indonesia, TVRI yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat dan acara-acaranya selalu ditunggu oleh masyarakat -- baik drama maupun berita -- kemudian ditinggalkan.  Jatuh bangun pengelola berusaha membangkitkan TVRI, tetapi sia-sia, karena penampilannya yang "old fashion"!

Kedatangan Helmy Yahya seakan memberi oase baru. Mampu menarik perhatian masyarakat melalui gebrakan-gebrakan yang dilakukan, baik dalam memberikan tontonan maupun pengelolaan manajemen. Di bawah Helmy Yahya, perubahan yang paling nyata adalah pergantian logo TVRI lama dengan logo baru yang mirip logo DWTV Jerman (entah disengaja atau tidak); pergantian seragam karyawan dari biru muda dan biru tua menjadi hitam dan coklat. Di bidang manajemen ada perbaikan kinerja, terbukti dengan pemberian predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari Badan Pemeriksa Keuangan; di bidang siaran kualitas gambar TVRI menjadi lebih bersih, dan masuknya tayangan favorit seperti Liga Inggris dan Bulutangkis, yang selama -- sejak era TV Swasta -- hanya bisa ditonton di TV Swasta.

Dengan gebrakan barunya itu masyarakat awam menilai Helmy sudah melakukan pencapaian luar biasa. Apalagi bisa menghadirkan tayangan Liga Inggris, sebuah tontonan favorit yang selalu ditunggu penggemar sepakbola di tanah air, terutama oleh mereka yang bosan dengan Liga Indonesia yang terindikasi penuh kepalsuan, riuh dengan perkelahian pemain maupun supporter, dan hanya menarik karena keterlibatan pemain asing. 

Helmy sendiri menyebut Liga Inggris yang diperoleh dengan biaya murah dari Mola TV sebagai "killer program" -- program yang mampu memaksa masyarakat untuk menonton. Dengan adanya tayangan Liga Inggris, masyarakat yang selama ini telah meninggalkan TVRI, kembali lagi. Walau pun setelah Liga Inggris usai mungkin akan melengos lagi.

Belakangan, tayangan Liga Inggris itulah yang menjadi batu sandungan baginya. Dewas menilai Liga Inggris tidak sesuai dengan budaya bangsa, berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi TVRI, dan tayangan seperti itu bukanlah "core bisnis" TVRI. Sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang dibiayai dengan APBN, seharusnya TVRI tidak menghambur-hamburkan uang untuk membeli tayangan yang lazimnya ada di TV Kabel atau televisi swasta. Alasan-alasan itulah, di antaranya, yang membuat Helmy Yahya didepak.

Kita tutup saja cerita Helmy Yahya. Kecuali dia benar-benar akan membawa masalah pemecatannya ke pengadilan, seperti isyarat yang disampaikannya ketika melakukan konperensi pers di Restoran Pulau Dua bersama pengacaranya Chandra Hamzah (eks Komisioner KPK), awal Januari.

Kini 30 orang telah memasukan lamannya untuk menjadi Dirut TVRI. Mereka adalah:  1. Yungki Gusti Randa, 2. SH, Imam Brotoseno, 3. Rodlany Anderes L. Tobing, 4. Buyung Wijaya Kusuma, 5. Hendra Budi Rachman, 6. Ir., MM., Dr. Ir. Daniel Alexander Wellim Pattipawae, MSi. 7. J. Erwiantoro, 8. Rudy Budiman, SE., C.pD., 9. Agus Masrianto, S.Si., MM., 10. Partiman, 11. Dr. Andre Notohamijoyo, S.Sos., MSM., 12. Zainuddin Latuconsina, SE., MSi., 13. Widodo Edi Sektiono, 14. Aji Hardianto Erawan, SE., MM., 15. Taufan Syah, Ak., CA., 16. Dr. Zahera Mega Utama, SE., MM., 17. R. Sudariyanto, SH., MH., 18. Slamet Suparmaji, S.Si., MM., 19. Ida Bagus Alit Wiratmaja, SH., MH., 20. Audrey G. Tangkudung, 21. Drs. Wisnugroho, MM., 22. Akmal Yusmar, 23. Yuma Shannelom, 24. Drs. M. Haris Subagio, MM., 25. Charles Bonar MT. Sirait, 26. Agus Prijadi, 27. Ir. Suryopratomo, 28. Fuji Yama ST, Mba., 29. Farid Subkhan, 30. Aat Surya Safaat.

Dari ke-30 nama pendaftar Calon Dirut TVRI itu memiliki latar belakang macam-macam: Mulai dari pengacara, sutradara film, artis, presenter, akademisi, pengusaha, ahli IT, wartawan, hingga karyawan TVRI sendiri. Semua pendaftar adalah orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan dan riwayat pekerjaan yang baik.

Tanpa melihat latar belakang pendidikan dan riwayat pekerjaan para pelamar, menurut hemat penulis, sudah waktunya Dirut TVRI dijabat oleh orang-orang yang berpikir out of the box tetapi dalam koridor kepentingan bangsa dan negara ke depan. Orang-orang yang berpikir biasa-biasa saja, terlalu text book rasanya bukan sosok yang tepat untuk membangun TVRI.

Pemerintahan kita memiliki pengalaman dalam mengisi orang-orangnya di Kabinet. Khusus di era pemerintahan Presiden Jokowi, ada satu sosok Menteri yang fenomenal: Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti. Ketika Jokowi memilihnya sebagai menteri, banyak yang pesimistis mengingat latar belakang pendidikan dan kehidupan pribadinya. Ternyata kemudian Susi Pujiastuti menjadi Menteri berkinerja baik walau melawan banyak kepentingan, karena pemikiran-pemikirannya yang out of the box demi kepentingan NKRI. Sampai saat ini Susi Pujiastuti dikenang sebagai Menteri yang berhasil menyelamatkan kekayaan laut Indonesia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline