Lihat ke Halaman Asli

Bukan Siapa Tapi Mengapa

Diperbarui: 29 Januari 2022   15:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Di sebuah gang kecil, gelap, dan hening. Hanya suara hujan yang singgah di atas genteng sebelum menggenang di selokan. Malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya. 

Tiga anak yang bertahun-tahun tidak merasakan kehadiran seorang hawa berdempet-dempetan untuk mendapatkan kehangatan di bawah selembar kain tipis. 

Serangga-serangga penghisap darah itu tidak peduli tubuh yang digigitnya sedang menginginkan jumlah darah yang cukup agar tidak merasa kedinginan.

Farzan anak pertama, masih berusia dua belas tahun. Sebentar lagi ia akan menggantikan masa putih merahnya menjadi putih biru. 

Di sampingnya, seorang anak berumur tujuh tahun melipat tubuhnya di antara dua saudara laki-lakinya. Ia bernama Bena, masih tertinggal di kelas satu karena tidak dapat menyelesaikan ujian akhirnya dengan baik di tahun sebelumnya. 

Namun, kabarnya ia dapat menyelesaikan ujiannya di minggu terakhir dengan baik. Meskipun diragukan ia akan naik kelas atau menjadi murid tertua di kelas yang sama. Anak laki-laki yang paling muda di antara ketiganya melingkarkan tangannya pada tubuh Bena. 

Dua bulan lagi, usianya genap lima tahun. Anak yang sering menangis, sudah tidak terhitung malam-malam yang dilaluinya tanpa mengeluhkan giginya yang rapuh dan berlubang. Pernah suatu hari, semua orang di dalam rumah tidak dapat tertidur karena isak tangisnya yang tak kunjung reda. 

Ketiga saudara yang lelah menghabisnya energinya berlarian sepanjang hari tampak tertidur pulas. Kemiskinan materi tidak membuat mereka kehilangan cara untuk bersukacita, cara tidurnya cukup menunjukkan bagaimana mereka menikmati kedekatan satu dengan yang lain. Masih terlalu muda tetapi sudah mampu menjaga satu sama lain.

Di teras rumah, laki-laki dewasa mengisap sebatang kretek dalam-dalam. Ia secara perlahan menghembuskan ke udara, tiada hari tanpa merusak paru-paru. 

Ada banyak hal yang menggantung dipikirannya, baginya satu-satunya cara meredakan kesesakan pikiran dan kebuntuan sebuah langkah dengan menikmati kretek sepanjang hari. 

Tidak ada yang mengetahui perkara yang ada di dalam batok kepalanya. Barang kali, ia sedang mencari cara untuk mendapatkan sebatang kretek di esok hari atau ia sedang menyesali keputusan-keputusan di dalam hidupnya yang terlalu terburu-buru. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline