Lihat ke Halaman Asli

Guıɖo Arısso

TERVERIFIKASI

ᗰᗩᖇᕼᗩEᑎ

Kalau Bukan Mereka, Siapa Lagi yang Mau Mengajar di Pelosok Negeri?

Diperbarui: 25 November 2020   07:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mama saya ketiga dari kiri. Swafoto di depan halaman SDK Pacar, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Flores. Foto diambil pada saat peringatan Hari Lahir Pancasila 2018 (Kompasianer/GUIDO REBA)

Kita semua tahu bahwa tugas seorang guru ialah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.

Bila ditilik dari tugasnya, menjadi seorang guru bukanlah tugas yang main-main, tentu saja. Selebihnya, seorang guru harus betul-betul mengemban tugasnya secara profesional. Ihwal menjadi seorang guru pasti mempunyai risiko. Namun, hal ini selalu bergantung pada relasi seorang guru dengan anak-anak didiknya.

Saya sendiri melihat profesi guru ini sebagai techne (guru teknikus). Dengan modalitas itu pulalah, mereka memiliki keterampilan khusus dalam mengajar, membimbing dan mengarahkan murid-muridnya kepada hal-hal yang baik dan benar.

Tentu saja keterampilan menjadi seorang guru ini sebelumnya mereka peroleh melalui latihan (baca: PPL sewaktu kuliah) dan pembiasaan dalam hal mengajar di sekolah sehari-harinya. Keterampilan dan kemampuan seorang guru ini pula dapat diteruskan kepada murid-muridnya.

Guru yang mengajar dengan baik di sini yang, menurut saya, dilihat sebagai techne karena dapat diteruskan kepada orang lain. Dalam hal ini kepada peserta didiknya.

Berbicara tentang guru sebagai profesi memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya yakin tugas mereka tak kalah berat dibandingkan profesi lainnya dunia ini. Tanggung jawabnya sangat besar bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Dari tangan mereka juga lahirlah generasi yang cakap dan berbudi pekerti.

Bila menghela narasi seputar guru, pasti kita punya guru favorit, iya kan? Demikian pun saya. Saya juga punya guru favorit sedari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun, kali ini saya ingin menyebutkan salah duanya saja dari nama-nama mereka itu.

Kedua guru favorit saya itu adalah Bapak dan Mama saya. Mereka berdua sampai saat ini masih mengajar di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Pacar, salah satu sekolah di wilayah terpencil bagian selatan Manggarai Barat, Flores.

Mereka berdua telah mengajar selama 30 tahun. Lebih tepatnya dari tahun 1990 hingga 2020 ini. Jika diperhatikan, walaupun secara usia sudah tidak muda lagi, semangat dan spirit mengajarnya tak pernah surut.

Padahal, mengajar di pelosok desa itu -aduh mama sayang ee- berat sekali kalau dipikir-pikir. Tak hanya soal lokasi gedung sekolah yang jauh, tapi juga soal beban administrasi keguruan dan sarana pra-sarana kegiatan belajar mengajar (KBM) yang kurang mendukung.

Tapi, lagi-lagi, karena mereka berdua terlanjur mencintai pekerjaan dan peserta didiknya, segala bentuk keterbatasan yang ada itu tidak dijadikan alasan untuk menyurutkan semangat berdedikasi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline