Lihat ke Halaman Asli

Memahami Istilah Jurunarsis

Diperbarui: 5 November 2015   05:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

[caption caption="Yellow Journalism"][/caption]

 

Memahami Istilah Jurunarsis Oleh Sofyan Salim

 

Secara leksikal (kata), juru adalah orang yang pandai dalam suatu pekerjaan yang memerlukan latihan, kecakapan dan kecermatan (keterampilan). Sedangkan narsisisme adalah hal atau keadaan mencintai diri sendiri. Jurnalistik (journalistic, journalism) secara etimologis akar katanya adalah journal (British English), yang berarti catatan harian yang terkadang memuat pandangan dan perasaan penulisnya. Juga bisa berarti majalah atau surat kabar yang diterbitkan secara teratur tentang topik tertentu. Maka jurnalitik pun kemudian diartikan sebagai laporan tentang peristiwa yang kemudian dimuat dalam berita. Sedangkan berita (news) memuat tentang kejadian yang aktual dan faktual dalam kehidupan sehari - hari. Jurnalistik juga berarti ilmu yang mempelajari tentang teknik dan prosess yang berkenan dengan penulisan berita, feature, artikel opini di media massa, baik cetak, elektronik maupun online. Sedangkan Jurnalis (journalist, British English) adalah orang yang menulis berita, artikel atau majalah untuk media massa tempat dimana ia bekerja atau mempublikasi beritanya.

Melihat pengertian diatas, maka sesungguhnya terdapat perbedaan yang sangat kontras secara leksiakal antara istilah jurnalis dan jurunarsis. Untuk memahami makna jurunarsis sendri, kita harus mengenal pengertian tentang narsisis secara psikologis. Jurunarsis adalah gabungan dari kata Juru dan Narsis (narsisisme). Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh. Sengaja saya gabungkan tanpa menggunakan garis pemisah untuk menjadi lawan kata jurnalis. Unsur (jurunarsis) itu hanya muncul dalam kombinasi. Contoh: tunanetra; tunawisma; narasumber; dwiwarna; pascasarjana;dll.

Dalam dunia kebahasaan (liguistik) ada istilah antonim (lawan kata) dan sinonim (kesamaan kata). Saya hendak memunculkan kata jurunarsis untuk menjadi lawan kata jurnalis. Menurut saya, seorang jurnalis yang baik, berintegritas, memahami ilmu jurnalistik dan mempraktekkan ilmunya seperti adanya, layak disebut Jurnalis. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia yang sama (mass media), namun tidak mempraktekkan ilmu serta segala ketentuan atau kaidah dan etika jurnalistik, saya sebut Jurunarsis. Dalam makna lain, jurunarsis berarti ”orang yang pintar menulis (juru), namun tidak tahu, lupa atau tidak mau mempraktekan kaidah, etika maupun ilmu jurnalistik.” Dunia pers mengenal istilah bagi media cetak yang masuk dalam kategori popular namun tidak berkualitas dengan sebutan Koran Kuning (Yellow Papers) atau jurnalisme got. Itu berarti terdapat jurnalis yang tidak berkualitas dan jurnalis yang berkualitas. Dalam konteks ini, maka saya melabeli jurnalis yang tidak berkualitas dengan sebutan jurunarisis. Maka dengan sendirinya saya menemukan antonim dari jurnalis, yang tidak lain adalah jurunarsis.

Pengertian Jurunarsis Secara Psikologi

Lahirnya kata jurunarsis sendiri adalah akibat dari kegalauan saya tentang berbagai pemberitaan yang tidak sesuai dengan kaidah, etika dan ilmu jurnalistik yang di praktekan oleh kebanyakan orang yang dikatakan jurnalis di negeri ini, bahkan dunia. Mereka memberitakan peristiwa yang terkadang lebih banyak ketidak sesuaiannya dengan kenyataan (lihat contohnya, 1,2,3). Pemeberitaan tentang korban pemerkosaan misalnya, media kadang menuliskan nama korban yang masih tergolong anak – anak, bahkan sampai menampilkan gambar anak korban perkoasaan. Padahal, secara psikologi dan hukum, hal demikian tidak dibolehkan, kasus seperti ini bisa dengan mudah ditemukan dalam pemberitaan media cetak, elektronik maupun online.

Berangkat dari keperihatinan itu, maka saya kemudian mencari tahu orang – orang yang tidak memiliki integritas dan egois tersebut (jurunarsis). Saya kemudian menemukan tipe orang seperti itu dalam ilmu psikologi. Ternyata, mereka tipe manusia Narcissist, yang memiliki keegoisan ekstrim dalam diri sendiri. Pribadi narsis mempunyai pandangan dan penghargaan yang tinggi atas diri sendiri. Narsisis percaya, bakat dan prestasinya lebih unggul daripada orang lain. Selain itu narsis adalah orang dengan tingkat kesombongan tinggi, sangat berharap menjadi pusat perhatian, dan kurang empati terhadap orang lain. Tipe pribadi narsisis tersebut digolongkan dalam pribadi Dark Triad atau tiga serangkai pribadi gelap manusia (bersama pribadi Psychopath and Machiavellian).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline