Lihat ke Halaman Asli

Gita Citra Santi

Lets talk about anything

Film Pendek "Tilik", Representasi Masyarakat di Pedesaan

Diperbarui: 24 Agustus 2020   10:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

doc pribadi

Baru-baru ini dunia perfilman Indonesia diramaikan oleh Film Pendek yamg diproduksi oleh Ravacana Films yang menggandeng Dinas Kebudayaan DIY yang berjudul "Tilik" dengan tempat pengambilan scenenya semuanya berada di salah satu daerah di Yogyakarta.

Tilik sendiri dalam bahasa jawa memiliki pengertian yaitu menjenguk. Sama dengan gambaran film ini yaitu segerombolan ibu-ibu yang sedang menaiki gotrex ( nama truck yang mengangkut  gerombolan ibu-ibu ini) sedang melakukan perjalanan ke rumah sakit untuk menjenguk Bu Lurah yang dikabarkan sedang sakit. 

Film Pendek "Tilik" banyak mencuri perhatian banyak orang karena sifat dan raut muka Bu Tejo yang menjadi tokoh utama dari film ini sangat relate sekali dengan keadaaan masyarakat pedesaan. Dibalut dengan scene yang sedikit humoris membuat film ini menjadi lebih banyak dilihat oleh banyak orang. Sampai sekarang  jumlah penonton di youtube sudah mencapai 9,8 M dalam waktu 6 hari saja.

Jika dicermati, banyak sekali korelasi yang ada dalam film itu dengan kehidupan masyarakat kita sehari-hari.

TUKANG GOSIP 

Sudah menjadi fenomena alam jika ada bayak ibu-ibu berkumpul di suatu tempat, hal yang tidak bisa disingkirkan adalah menggibahkan orang lain. Entah ini sudah menjadi penyakit masyarakat atau apa, tapi inilah yang sebenarnya terjadi. Ghibah adalah surga dunia perempuan kata banyak orang. 

Sangat susah sekali untuk menghilangkan kebiasaan ini, bahkan meskipun sudah jarang berkumpul akibat covid-19, konsep penggibahan masih bisa dilakukan di WAG (Whatsapp Group). Dan tidak jarang pembicaraannya tentang menjelek-jelekkan orang lain yang ada di desanya. Seperti Bu Tejo dalam film tersebut yang selalu menggosipkan Dian yang menjuruskan pada perilaku Dian yang tidak benar (Ya, meski iya sih hehe di scene terakhir diperlihatkan Dian bersama om-om kaya di mobil).

GAPTEK 

Para orangtua-orangtua di desa-desa menskipun sudah memiliki HP yang canggih tetapi tidak dapat memanfaatkan dengan baik. Alhasil, memiliki HP yang bagus, tetapi hanya banayk dipergunakan untuk telfon, sms, dan paling keren untuk wa dengan orang lain. Padahal HP yang canggih bisa digunakan untuk mencari informasi-informasi lainnya yang sangat bermanfaat untuk kehidupan mereka. 

Scene ini ditunjukkan saat Bu Tejo sedikit marah-marah kepada Ibu-ibu yang lain karena tidak menggunakan HPnya untuk mencari informasi yang lain, padahal dari situ bisa terlihat bahwa Dian memiliki perilaku yang berbeda saat di luar jika dibadingkan saat di desanya (Dian lagi Dian lagi)

SUKA BEREDAR INFORMASI TIDAK VALID

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline