Lihat ke Halaman Asli

Gilang Dejan

TERVERIFIKASI

Sports Writers

Menanti Derbi Generasi Emas di Final Piala Dunia

Diperbarui: 9 Juli 2018   15:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

.footballwood.com

Piala Dunia 2018, Rusia, telah memasuki fase semifinal. Dari empat tim yang tersisa, tak ada satu pun wakil dari benua Afrika, Asia, atau Amerika. Bisa dipastikan wakil Eropa akan kembali menjuarai event empat tahunan kali ini. Perancis, Belgia, Inggris, dan Kroasia.

Meski begitu, Piala Dunia kali ini tetap menarik. Berbagai prediksi patah sejak fase grup berlangsung. Gugurnya juara bertahan Jerman tak ubahnya menjadi sebuah isyarat bahwa ajang yang dulunya memperebutkan trofi Jules Rimet ini akan menyajikan lebih banyak kejutan. Di fase berikutnya (knock-out), tim tuan rumah Russia mengejutkan publik dunia dengan mengalahkan tim unggulan Spanyol.

Pun saat Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pulang bersamaan di fase 16 besar. Semua seolah tak bisa memaafkan tatkala dua pemain langganan balon D'or itu angkat kaki lebih cepat dari Russia. Cerita mengejutkan tak berhenti disitu saja, Belgia berhasil mengalahkan Brasil di perempat final. Pun dengan Kroasia yang melangkah mulus menuju semifinal.

Entahlah, apakah kejutan akan terus berlanjut di semifinal? Atau kita harus sepakat bahwa Piala Dunia kali ini tak ada tim yang bisa dijadikan sebagai tim favorit juara. Karena hitung-hitungan matematis selalu terpatahkan selama ini.

Perancis vs Inggris

Laga pertama fase semifinal yang mempertemukan Perancis kontra Belgia akan dilangsungkan di Saint Petersburg Stadium, pada Rabu (11/07). Laga ini bisa dikatakan sebagai final prematur, mengingat materi pemain kedua tim begitu mewah. Head to head akan sengit disetiap posisi bahkan setiap pemain.

Meskipun banyak pihak menjagokan Perancis ke final. Belgia yang tengah menuai generasi emasnya tak akan gentar menghadapi tim asuhan Didier Deschamps. Setelah lolos dengan meyakinkan di Grup G. Eden Hazard cs tak terbendung di fase berikutnya dengan mengalahkan Jepang 3-2 dan Brazil 2-1.

Berbeda dengan lawannya, walaupun berhasil menjadi juara grup langkah Griezmann cs tak semulus tim asuhan Roberto Martinez. Mereka hanya meraup 7 poin hasil dari dua kali menang dan sekali seri, baru di babak knock-out dan semifinal mereka lebih meyakinkan ketimbang Belgia dengan mengalahkan Lionel Messi FC 4-3 dan Uruguay dua gol tanpa balas.

Jika melihat data diatas, Belgia dan Perancis mengalami tingkat perform yang berbeda. Belgia yang mendapat top performance dari awal sedang Perancis mencapai klimaksnya di laga-laga terakhir. Dan biasanya tim yang anti-klimaks diawal akan menjadi juara dalam sebuah event. Namun, hal tersebut sepertinya tak berlaku untuk sekarang ini.

Ada banyak data dan fakta menarik di laga ini. Pertama, Perancis bermain dengan keberagaman. Media luar menyebutnya, "black, blank, beur" atau jika diartikan secara bebas menjadi "hitam, putih, dan Arab". Skuad Perancis tidak hanya dihuni oleh orang-orang lokal negerinya melainkan juga diisi oleh imigran dan keturunan imigran.

Seperti misalnya, Samuel Umtiti bek yang lahir di Kamerun. Kemudian N'golo Kante yang terlahir di Paris namun kedua orang tuanya merupakan imigran yang berasal dari Mali. Serupa dengan Kante, Paul Pogba pun terlahir di kota yang memiliki menara Eiffel tower ini dan orang tuanya berasal dari Guinea. Satu pemain terakhir yang dibesarkan dalam keluarga lingkungan imigran yakni Kylian Mbappe. Ayah nya merupakan seorang Kamerun sedangkan ibunya dari Aljazair.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline