Lihat ke Halaman Asli

Gaganawati Stegmann

TERVERIFIKASI

Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Kangen Sungkeman, Tradisi Bermaaf-maafan ala Jawa Saat Lebaran

Diperbarui: 22 Mei 2020   14:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Memori sungkeman dengan orang tua (dok.To2k)

Hari ini ketika sedang bersih-bersih ruang tamu, menemukan tiga lembar foto di meja di atas tumpukan dokumen yang sedang saya rapikan.

Itu foto lama kiriman almarhum bapak yang sebulan lalu meninggal. Salah satunya adalah foto ketika kami sungkem dengan beliau tahun 2008. Kangen rasanya bertemu beliau. Sayang, tahun ini nggak bakal bertemu karena dunia memisahkan kami.

Apa itu sungkeman?

Kompasianer, sungkeman adalah tradisi yang lekat dalam kehidupan kami di Semarang, Jawa Tengah. Sungkeman kami lakukan setidaknya pada dua momen.

Momen yang pertama adalah saat lebaran setahun sekali. Sungkeman dimaksudkan untuk meminta maaf kepada orang tua dan silaturahim. Saya masih ingat betul detik-detik sungkeman di Indonesia.

"Bapak/ibu ngaturaken sugeng riyadi. Nyuwun pangapunten sadaya kalepatan." Ucap saya lirih tapi pasti dalam Bahasa Jawa krama alus, bahasa lokal yang sehari-hari kami gunakan. 

Pangapunten yang merupakan tingkatan tinggi dari pangapura yang dalam bahasa sansekerta artinya ampunan atau maaf.

Jadi artinya secara keseluruhan yakni ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan meminta maaf atas segala kesalahan entah disengaja maupun tidak disengaja. Hari Idul Fitri, sebaiknya kembali suci.

Sebagai anak, pasti banyak ketidaktahuan, kesalahan, kemarahan, kekurangajaran, ketidaksopanan yang pernah terjadi selama hidup bersama orang tua atau saat sudah berkeluarga tapi masih berkomunikasi. Barangkali ada kata-kata atau perbuatan yang nggak mengenakkan hati tapi tidak dibahas. Inilah saatnya untuk melebur menjadi debu. Hilang!

"Tak apura kabeh kaluputanmu. Sauga bapak/ibu sing tuwa yo akeh lupute, diapura. Muga-muga dadiya putri sing mikul duwur mendem jero...." Sembari mengelus-elus rambut saya yang biasanya panjang, bapak/ibu menjawab dengan ucapan dalam Bahasa Jawa ngoko alus.

Selain memberikan maaf kepada saya, ada doa terselip di sana. Misalnya supaya saya jadi putri yang mampu melakukan yang terbaik dalam hidup hingga mengangkat nama baik keluarga, khususnya orang tua. Doa orang tua, kepanjangan tangan dari Tuhan Yang Maha Memberi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline